Solusi Permanen Bencana longsor dan Banjir di Cilacap, Adakah ?

Kejadian tanah longsor di sebelah timur perbatasan jateng – jabar Desa Panulisan Kecamatan Dayeuhluhur  (13/3) dan Banjir yang merendam pemukiman warga Kecamatan Sidareja (12/3) merupakan kejadian yang terjadi berulang setiap tahun. Pada kejadian tanah longsor, longsoran hanya menimpa di jalan akses nasional selatan antara perbukitan terjal dan pemukiman, sehingga tidak sampai ke pemukiman warga, sedangkan banjir sempat menggenangi tiga kecamatan,  yang terparah terendam hanya di Kecamatan Sidareja kota. Pada Kejadian tersebut tentu saja menghambat aktivitas warga, apalagi saat musim hujan terjadi setiap tahun . Terasa aneh membiarkan persoalan terjadi bertahun tahun tanpa solusi yang permanen, tidak hanya merepotkan warga tidak bisa beraktivitas , suatu saat dapat membahayakan warga dan menghadapi lingkungan yang rawan bencana warga tidak bisa bahagia.

Maka kita perlu berpikir terobosan (inventing) pada soal yang hambatan kejadian rutin bertahun-tahun. Paling tidak yang mempunyai kewenangan seperti Dinas Pekerjaan Umum ada rekomendasi usulan program secepatnya. Mungkin saja ketika bicara pada soal anggaran menyulitkan berpikir selanjutnya, sudah biasa, namun menyangkut kebijakan melalui pemerintahan dan swasta selalu ada peluang terobosan.

Pertama kita Pada situasi area kejadian tanah longsor, perbukitan dimiliki oleh PTPN IX, peta konturnya adalah perbukitan terjal sepanjang 2,5 km dengan ketinggian kira kira 25 meter. Supaya tidak terjadi longsor solusi permanen satu-satunya yang memungkinkan hanya di kepras (dipotong bukitnya) masuk selebar 50  limapulih meter, sepanjang 2,5 km. Di buat saluran drainasi dengan bukitnya di buat perkuatan pola terasering.  Lalu, kembali pertanyaan darimana biaya mengepras bukit. Sedangkan hasil pengeprasan adalah hanya kandungan bongkahan tanah yang hanya bisa di peruntukkan untuk urugan tanah maupun lainnya. Bagaimana kalau biaya mengepras dan kontruksi di tukar dengan hasil tanahnya meteran kubik.  Di sini bisa bekerja sama dengan pengusaha swasta. Namanya saja pengusaha, ulet dan kreatif, tentu saja di kabupaten Cilacap ada yang tertarik,yang kebetulan sedang banyak proyek pengurugan, boleh saja ditawarkan siapa tahu ada yang mau.

terobosan lainnya : Namanya saja pemerintah otonomi daerah, lebih kuat kewenangannya dan kreatif menggali potensinya. Melalui pemerintah pusat bisa saja diajukan usulan mengenai rencana tersebut, apalagi lingkungan area terdampak merupakan daerah tertinggal. Bisa saja diajukan ke kementerian daerah tertinggal, bila di setujui pusat nantinya tidak ada hambatan lainnya.

Pada soal banjir rutin tahunan , area dampak terparah terdapat di Kecamatan Sidareja, genangan air sampai setinggi 40 cm, sementara tudingan disebabkan oleh karena meluapnya sungai cidurian dan sungai Cibeureum, aliran sungainya mengalir ke segara anakan yang semakin dangkal. Program usulan sebenarnya sudah ada yakni program mengurangi pendangkalan segara anakan dengan cara sudetan di sungai citandui, aliran dialirkan ke laut lepas wilayah jabar, namun usulan program sudetan sudah sangat lama tidak terealisasi. Saat ini terdapat usulan baru yakni melalui Normalisasi sungai berdampak. Namun perlu diperhatikan penguatan tebing kontruksinya harus kuat menyeluruh memanjang dan dilakukan peninggian batas tebing agar tidak mudah jebol, yang sering terjadi. program normalisasi tidak mampu sepenuhnya mengurangi banjir, di sebabkan area terdampak konturnya lebih rendah seperti wilayah cekungan. Mungkin saja perlu ada sinergisitas program lainnya misal di wilayah area terdampak di buat area tampungan air yang cukup besar seperti embung yang dapat di manfaatkan wisata maupun tanaman produktif buah – buahan. Program ini bisa saja menggandeng swasta khusus di jateng terdapat LSM ahli embung bermanfaat. Memang sulitnya pada soal pengadaan tanahnya. Dari pada warga selalu menghadapi banjir rutin tahunan , dan sorotan opini publik pun tidak akan baik. Pada soal ini pemda bisa saja all out melepaskan saja tanah di punyainya kalau perlu demi warga alun-alun kecamatan bisa saja di jadikan tampungan air, misalnya. Maupun program solusi permanen lainnya melalui pokok -pokok pikiran DPRD Cilacap supaya di akomodir melalui APBD,

Semangatnya dalam rangka otda untuk meningkatkan pelayanan publik dan menggali potensi daerahnya terus wajib kita dorong, akhirnya warga bahagia , semua pun bahagia.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s