Perlukah SUKARNO “di putihkan”?,

Manusia dari sang illahi memang ditempatkan di alam semesta. Seluruh kebijakan alam semesta tentunya diperuntukkan untuk manusia. Bukanlah hidup hanya cukup saja mengamininya. Dari itu persepsi dan rasionalitas manusia menformulasikan kebijakan untuk kemanusiaan dan keadilan di alam semesta. Namun untuk itu diperlukan kecerdasan demi peradabannya manusia itu sendiri. Untuk itu saya perlu mengangkat tema masa lalu, dalam bulan juni,  saat ini oleh sebagian warga cinta Tanah Air Indonesia dirayakan sebagai bulannya Bung Karno. Dengan Tema tersebut adalah kutipan Tema laporan utama  dari majalah Tempo, 10 Agustus 2003 . Yang jadi soal Tema tersebut adalah Sukarno didudukkan sebagai pihak yang ikut bertanggung jawab akan peristiwa Gerakan 30 september 1965. Resminya diwujudkan dalam ketetapan MPRS XXXIII Tahun 1967. Berawal dari Surat Perintah sebelas maret 1966, Presiden Sukarno memberikan kepada Letnan Jendral Suharto untuk mengatasi keadaan waktu itu dan menjaga kewibawaan sukarno. Lalu SP 1966 dikukuhkan oleh MPRS dengan ketetapan No. IX tahun 1966.

Benar, Peristiwa hal tersebut sudah lama berlalu, namun sampai saat ini ternyata bangsa ini masih menyisakan persoalan ataupun ketidakmampuan memecahkan masalah yang bisa menampung kondisi yang sama bagi semua pihak. Rumus setiap persoalan ada pemecahannya tdak berlaku terhadap sang proklamator.

Kala itu negara -negara di dunia terbelah jadi dua blok kekuatan, yakni  antara blok barat sekutu liberal kapitalis  dan blok Timur sosialis /komunis. Ketegangan antara dua kekuatan dunia itu biasa diistilah “perang Dingin”. Masing masing blok kekuatan berkeinginan untk menancapkan dan menarik Indonesia dalam pihaknya. Klimaks pada Peristiwa G 30 S 1965 / Gestok membuat imbangan politik saat itu berubah drastis.

Pidato Sukarno di PBB “Membangun Dunia Kembali”, mengajukan Pancasila sebagai pandangan hidup bangsa-bangsa di dunia, menambah posisi Indonesia menjadi penting, dilain pihak membuat ketidaksukaan blok-blok negara super power semakin bertambah gusar.

Dengan terjadinya perubahan imbangan politik saat itu, sukarno diminta pertanggung jawabannya. Saat itu MPRS yang sudah dirombak anggotanya, pada tanggal 10 Januari 1967, meminta sukarno berbicara menjelaskan atas peristiwa G 30 s 1965 dan kemerosotan ekonomi indonesia. Seperti yang ditulis tempo, sukarno berbicara ” kenapa hanya saya yang diminta pertanggungan jawab atas terjadinya G 30 S? adilkah hanya saya yang disuruh bertanggung jawab atas kemerosotan ekonomi?dan moral ?. Pidato tersebut dikenal sebagai “Pelengkap Nawaksara”.

Setelah pidato Nawaksara dan pelengkapnya ditolak oleh MPRS, kala itu, menandai berakhirnya Sukarno dari jabatan Presiden seumur hidup. Ditambahkan dengan adanya ketetapan MPRS Nomor XXXIII, pada 12 maret 1967, yang menyebutkan bahwa sukarno tak dapat memenuhi pertanggungan jawaban konstitusional serta tak dapat menjalankan amanat perlemen, terutama setelah pidato nawaksara ditolak- seperti di tulis Tempo. Sesudahnya Sukarno dilarang melakukan kegiatan politik. Pelarangan tersebut seperti di “penjara” dalam negara yang dirintasnya. Martabat sang Proklamator oleh anak bangsa yang sudah dimerdeka kannya di caci maki, difitnah dan dikutuk.

Banyak versi peristiwa G 30 S yang saat ini yang beredar, tak disebutkan disini, biar sejarah yang akan membuka mata hatinya.

Mengupayakan pelurusan sejarah, jangan dilihat dari motif ekonomi semata, akan naiknya perbaikan perekonomian warga saat ini maupun penuntasan pemberantsan korupsi masih terasa tebang pilih. Adalah Empat pilar yang gencar disosialisasikan sbg sendi-sendi dalam berbangsa dan bernegara  yang di idam idamkan seluruh rakyat indonesia entah melalui rekonsiliasi nasional maupun  Sidang Umum MPR saat ini untuk mencabut “ketetapan-ketetapan masa lalu” yang kurang tepat .

redupnya Bung Karno,

Di era reformasi, kini sebagai bangsa, Indonesia semakin hilang kedaulatan, hilang rasa jati diri sebagai bangsa besar.

. Binneka Tunggal ika, damai itu indah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s