Strategi Kebudayaan : Percaya Diri Sendiri

Sudah menjadi kenyataan bahwa masyarakat Indonesia bersifat sangat mejemuk. Kemajemukan tersebut bisa berbentuk pembelahan secara kultural seperti aliran, agama dan juga etnik, tetapi juga juga bisa berdimensi kelas dengan yang berkaitan dengan masalah kesenjangan ekonomi.

melalui pemahaman sejarah dan perkembangan masyarakat, kesalahan mengambil strategi kebudayaan dalam masyarakat yang majemuk  mengakibatkan kerumitan dalam mendefinisikan ideologi keindonesian berujung gagalnya dasar-dasar penyelenggaraan negara dan national character Building.

Sejarah ekspansi kapitalisme negara-negara dunia ketiga dengan puncaknya imperialistik kemudian menciptakan watak kolonialistik bukan saja dunia ketiga -khususnya indonesia- diperkenalkan dengan cara produksi baru, tetapi juga persentuhan dengan internasional selalu mengalami kegoncangan-kegoncangan di dalam negeri berupa konflik-konflik masyarakat.

interaksi dengan kapitalisme internasional membangun di satu sisi membangun relasi globalitas masyarakat majemuk, diujung lainnya bersentuhan dengan lokalitas masyarakat yang memiliki identitas yang saling berbeda, secara horisontal plural dalam arti suku,ras,gender, maupun vertikal perbedaan akses ekonomi dan politik. Globalitas masyarakat adalah dialektika emansipasi kemanusian antar keyakinan, pemikiran dan sistem kebudayaan, suatu cara pandang satu kemanusian  yang utuh antara geo sosial-ekonomi politik .

Dalam konteks mendirikan keindonesiaan, kolonialisme juga melahirkan respon respon perlawanan sangat pluralistik bisa saja mengambil bentuk keagamaan, nasionalisme dan sosialistik maupun dapat bergandengan dengan respon respon identitas tradisi ratu adil mesianik dan melirianisme.  Persentuhan antara ideologi barat dan kebudayaan timur dengan kandungan unsur tradisi moralitas dan spiritual akan membentuk sikap sejarah dan sikap politik yang keduanya akan menjadi cara pandang keindonesian.

Ir. Soekarno misalnya. Di Surabaya, saat mondok di rumah HOS Tjokroaminoto, Soekarno menyelami aksi dan refleksi pergerakan kemerdekaan indonesia . Tjokroaminoto sendiri, seperti dalam Buku Tjokroaminoto, Islam dan Sosialisme. Demikianpun pada tahun 1926, Soekarno muda menulis artikel berjudul “Nasionalisme, Islamisme, dan Marxisme”. Di bagian akhir artikel itu, yakni , Soekarno menjelaskan pemikiran, Bung Karno menulis bahwa “ Partai Boedi Oetomo, ‘marhum’ Nationaal Indische Partij yang kini masih ‘hidup’, Partai Sarekat Islam, Perserikatan Minahasa, Partai Komunis Indonesia, dan masih banyak partai-partai lain … itu masing-masing mempunyai r o k h Nasionalisme, r o k h Islamisme, atau r o k h Marxisme adanya. Dapatkah roch-roch ini dalam politik jajahan bekerja bersama-sama menjadi satu Rokh yang Besar, Roch Persatuan ? Rokh Persatuan yang akan membawa kita ke-lapang ke-Besaran ?” 1) (Ir. Sukarno: Nasionalisme, Islamisme dan Marxisme, dalam buku DIBAWAH BENDERA REVOLUSI, jilid pertama, hal. 3, Panitya Penerbit DIBAWAH BENDERA REVOLUSI, 1959). Bung Karno dengan tegas menjawab, bahwa ketiga aliran itu dapat bersatu.

Persentuhan aksi dan refleksi kolonialisme di indonesia merupakan dasar dasar pokok dialektika pemikiran keindonesian. “mankind is one……. Dasar dan tujuan revolusi Indonesia adalah kongruen dengan social Conscienci of Man  itu! keadilan sosial, kemerdekeaan individu, kemerdekaan bangsa, dan lain sebagainya itu, adalah pengejawantahan dari pada Social Conscience of Man. Keadilan Sosial dan kemerdekaan adalah Tuntutan Budi Nurani Manusia.” (DBR II -hal. 362-363).

Bung Karno menolak dogmatisme, dalam mewujudkan tetap bersendikan keindonesian yakni pada persatuan nasional (sosio nasional) dan sosia demokrasi (kerakyatan yang dipimpin oleh hikmah permufakatan dan musyawarah / perwakilan). Pidato BK, di sidang Dokuritsu Zyunbi Tyoosakai, 1 juni 1945, yang dinamakan PANCASILA: ………….Paduka tuan ketua yang mulia meminta suatu “Weltanschuung”, diatas mana kita mendirikan negara Indonesia itu……, Kebangsaan dan peri-kemanusiaan, diperas menjadi satu, itulah yang dulu saya namakan socia-nationalisme. Dan demokrasi yang yang bukan demokrasi barat, tetapi politiek-economische demokratie, yaitu politieke demokrasi dengan sociale rechtvaardigheid, demokrasi dengan kesejahteraan, saya peraskan pula menjadi satu: inilah yang dulu saya namakan socio-democratie. Tinggal lagi ketuhanan yang menghormati satu sama lain.

Jikalau saya peras yang lima menjadi tiga, dan yang tiga menjadi satu, maka dapatlah saya satu perkataan indonesia yang tulen, yaitu perkataan gotong royong.

Bung Karno untuk mewujudkannya dan merumuskan cita-cita nasional berdasarkan percaya diri sendiri atas nasib bangsanya (Berdikari). konsep inilah yang melahirkan Pancasila. Pancasila merupakan jalan tengah (sublimasi) dari ideologi-ideologi dunia yakni ideologi yang bersumber dari totaliterisme dari manifesto komunis dan Declaration of independence yang bersumber dari individualime.

Para pemimpin perjuangan nasional indonesia, dalam merumuskan cita-cita Indonesia merdeka sebagaimana tersurat dalam Pembukaan UUD 1945, memandang inti dari sebuah kemerdekaan nasional adalah agar sebuah negara bangsa (nation state) dapat mengelola sumber-sumber agraria (kekayaan alam) yang dimilikinya untuk sebesar kemakmuran rakyatnya. Alasan berdirinya bangsa indonesia bukan sekedar konsolidasi primordial kepartaian tetapi juga konsolidasi nasional ekonomi politik berdikari. Bila gagal negara nasional akan menjadi bangsa kuli diantara bangsa-bangsa dunia.

One response to “Strategi Kebudayaan : Percaya Diri Sendiri

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s