Segala sesuatu menurut keadaan, tempat dan waktu

Kepada Saudaraku, Kehidupan yang paling abadi adalah Perubahan itu sendiri. Pertanyaannya; keadaan kita akan terus di hadapkan terus naiknya kebutuhan pokok hidup,  dibarengi merosotnya daya hidup sebagian besar rakyat indonesia, harga rupiah nilanya terus melemah terhadap mata uang dunia; Lalu sebagian besar warga harus bertanya “Apa hakikat indonesia merdeka” ?. Apa hanya membentuk pemerintahan untuk melindungi segenap bangsa dan tumpah darah tempat kita berpijak. Lalu,  bagaimana eksistensi manusia yang menyadari kediriannya sebagai bagian dari sebuah bangsa. Sudah seharusnya, niat baik merdeka jangan berhenti hanya sebagai fakta sejarah saja dan inilah menjadi orientasi kembali mengambil resiko meneguhkan ke jati dirian dasar kemanusiaan dan keadilan untuk terus berkembang.

Di perlukan mencari mencari visi (penglihatan yang tajam kedepan) kembali, itu , saat ini sangatlah sulit dan upaya itu sedikit akan terkuak bila mengingat para pemimpin pendiri bangsa  khususnya pendiri bangsa seperti Bung Karno dengan kemampuannya penglihatan yang tajam mampu merumuskan proyeksi politik kini dan masa depan berdasarkan analisisnya situasi epoleksosbud hankam , semuanya berlandaskan nilai dan prinsip-prinsip ideologi.

Saya sendiri pun bertanya-tanya dalam hati, apakah relevan dalam jaman sekarang ini, untuk mengedepankan kembali pikiran Bung Karno  “apakah relevan untuk membawa-bawa tema bercita-cita tinggi” serta tema “merombak dunia membangun tatanan dunia-baru “. Soalnya saat ini warga muda maupun tua sudah lelap hanyut dalam buaian hidup kebendaan yang sering kali pula disertai dengan perangai buto ijo alias serakah dan tamak; yang tenggelam dalam arus hedonisme sambil asik mendendangkan lagu “Nikmatilah hari ini, hari esok itu soal nanti, yang penting bisa masuk sorga”.

Ketika ditanyakan, akan kah kita meniru model gaya hidup bangsa – bangsa lain ? , jawaban nya tentu saja tidak. Lalu apa ?, kan membingungkan bukan,  bila se enaknya saja menjawab “terserah” ntar dianggap tak bertanggung jawab alias generasi sontoloyo.

perubahan itu menurut sukarno adalah “pantarei”, akan terus mengalir tidak terbatas oleh waktu, tidak mengenal titik, dan berjalan mengikuti perkembangan jaman.

Mengoverview kembali ! Relevan apa tidak, jawaban saya serahkan saja pada masyarakat sekarang dan pada sejarah.

Meneguhkan kejati dirian disamping membutuhkan penegasan-penegasan dan penajaman penajaman ; terutama sekali adalah soal “paradigma” antara lain :

Tentang INTI DASAR

Para pendiri bangsa pertama sekali pemikirannya selalu dikaitkan dengan sejarah dan sistem yang melingkupi suatu masyarakatnya , Bung Karno menganalisa kondisi masyarakat indonesia sebagai suatu komunitas sosial yang hidup dalam satu wilayah sistem geo-politik Hindia belanda, tidak dapat mengaktualisasikan Tuntutan masyarakat yang adil, makmur, sejahtera, dan zonder exploitation de l’homme par l’homme, adalah karena terkungkung didalam suatu sistem yang menindasnya, yaitu kolonialisme/imperialisme yang merupakan anak dari kapitalisme, serta feodalisme bangsa sendiri. Agar warga bangsa indonesia dapat membebaskan diri dari sistem yang menindasnya tersebut sehingga dapat mengaktualisasikan Tuntutan Budi Nuraninya, Bung Karno mencetuskan ideologi yang di sebut Marhaenisme / Pancasila. Cita-cita kehidupan ideal itu adalah inti dari hakekat hidup manusia karena bersumber dari Tuntutan Budi nurani Manusia (the social conscience of Man). Inti dasar pemikiran (term ad qua) Sukarno tentang Pancasila adalah  the social conscience of Man. Dasar pemikiran ini adalah fakta sejarah.

Cita cita kehidupan ideal adalah pemikiran setua kehidupan manusia itu sendiri, yang membedakan hanya konteks sosial masyarakatnya. Bung Karno adalah seorang sarjana, seperti juga kaum intelektual lainnya, ia juga suka membaca buku, dari mana ia menyusun teorinya, bukan hanya dari bibliotek dan laborotorium, lebih luas lagi dari laboratorium masyarakat; Ingat pertemuan dengan petani di bandung selatan, selanjutnya pembelaannya akan masyarakat indonesia itu untuk diambil sebagai penamaan marhaenisme.. Ia pun menuntut harmonisasi antara kemerdekaan individu dan keadilan sosial. Manakala terjadi konflik antara kedua tuntutan tersebut, maka kepentingan umumlah yang harus di utamakan (pro bono publico) karena didalam kepentingan umum sudah terkandung kepentingan individu.

Di antara bahan bahan masyarakatnya, kemampun penguasaan terhadap bahasa asing turut membantu cara kerja ilmiahnya, juga dari buku-buku, pembacaan pada filsafat seperti pemikirannya dapat didasarkan pada filsafat idealisme, seperti dalam teori “idealisme absolut” dari George Frederich Hegel”. Dalam analisisnya, Sukarno, kadang-kadang memakai juga hal-hal yang bersifat metafisik, karena menyangkut hakekat, keyakinan dan kepercayaan manusia akan suatu hal yang tidak bisa dirasakan, secara inderawi (transeden). Dengan pendekatan filsafat idealisme tersebut tesis Ludwig Feurbach tentang kritik agama yang dilanjutkan Karl mark, secara otomatis menjadi gugur dalam pemikiran sukarno.  Sukarno lebih sepakat dengan pemikiran hegel yang percaya bahwa hakekat hidup manusia yang telah tertuang dalam nilai-nilai agama adalh murni dari roh semesta alam (disebut hegel sebagai Tuhan), bukan semata-mata hasil rekayasa manusia sebagaimana pemikiran feurbach. Terhadap agama sukarno tidak pernah melakukan kritik, justru mengharapkan nilai-nila agama ini dapat meneguhkan nation and character building. kritik sukarno pada sisi budaya feodalisme yang di nilainya telah mengotori dan membiaskan nilai-nilai agama. Oleh karena itu sukarno selalu menyerukan agar dalam memanifestasikan agama, yang diambil adalah apinya bukan abunya.

Tentang Merosotnya Kehidupan

Merosotnya kehidupan yang dialami bangsa indonesia adalah dapat menjadi sebuah bentuk extrim menuju pemiskinan, oleh sukarno pemiskinan/ pauverishing/ adalah suatu sistem yang berlaku melakukan pemiskinan melalui berbagai bentuk instrumen didalamnya. teori ini bertolak dari realitas ketertindasan yang dialami rakyat indonesia. Sukarno dalam tesisnya untuk menganalisis ketertindasan dan kemiskinan,  adalah seorang petani miskin,  serupa dengan mayoritas saat warga, itu yang dijadikan model , disebut “marhaen”.  Seperti intelektual lainnya, sukarno pun menggunakan pendekatan filasat historis materialisme, ia mengatakan historis adalah historis atau sejarah. Dengan pisau analisinya historis materialisme, sukarno menjelaskan bahwa para petani yang memiliki tanah, cangkul serta alat produksi lainnya, mampu berproduksi secara mandiri, namun tetap terbelenggu dalam sistem kapitalisme dan feodalisme yang berlaku di indonesia.

Realitas sosial masyarakat saat itu menunjukan bahwa tanah-tanah pertanian banyak dikuasai oleh para tuan-tuan tanah (landlord) yang bergerak dibidang perkebunan dan dengan hak onderdeming serta erfach yang di lindungi Agrarische Wet. sehingga banyak rakyat indonesia yang tidak memunyai lahan garapan dan hanya mampu menjadi petani kecil dan buruh tani. Landlord tersebut sebagian besar adalah orang-orang belanda dan orang indonesia dari golongan priyayi.

Dari bawaan kultur agraris tersebut juga memendam sifat-sifat akan tidak percaya diri, pasrah, dan nrimo dan ditambah kungkungan feodalisme  membuat para petani tidak memiliki kesadaran diri untuk bangkit dari ketertindasannya.

Tentang GOTONG ROYONG

Gotong royong menurut Sukarno dalam pidato lahirnya Pancasila adalah bentuk lain cara mewujudkan perjuangan menuju  Negara “satu buat semua, semua buat satu”. Dasar pemikiran sukarno tentang memilih gotong royong adalah runtutan teorinya tentang tuntutan budi nurani manusia. Bahwa dengan budi nurani manusia  yang dimiliki setiap manusia pada hakekatnya menginginkan kesempurnaan dan tidak ingin mengalami, melihat penindasan. Teori ini bertolak belakang dengan teori karl mark tentang perjuangan kelas. Mark memilih perjuangan kelas (klassentrij) berdasarkan runtutan teorinya tentang keterasingan (alienasi), nilai lebih (meerwarde) dan teori perkembangan masyarakat (verelendung),  juga yang pokok didasarkan atas teori kontradiksi modal dan kerja sebuah konflik yang tak terdamaikan. Sehingga Karl Mark berpikir bahwa satu satunya jalan menyelesaikan konflik adalah klassentrijj.

Dalam teori Sukarno kontradiksi antara modal dan kerja diselesaikan dengan gotong royong. Oleh karena itu sukarno tidak menganjurkan perjuangan kelas, tetapi perjuangan gotong royong, dimana semua kelas sosial bersatu untuk bersama sama menggunakan Pancasila sebagai jembatan emas menuju kesejahteraan dan kemakmuran tanpa penindasan.

Terhadap sifat perjuangan gotong royong hanya menuntut adanya kesadaran dari seluruh rakyat indonesia. Untuk mewujudkannya di butuhkan suatu revolusi yang bersifat merubah pemikiran, merubah pandangan hidup, merubah sosial-ekonomi-politik-budaya indonesia. , yang kesemua aspek mempunyai satu tujuan yaitu mngembalikan tuntutan budi nuraninya. Diatas budi nurani itulah bangsa indonesia menjalankan hidup kebangsaannya.

(bersambung ! )

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s