Gadjah Mada, Sukarno dan Paradigma Baru Nation and Character Building

24/12/2011 10:48:08 KAGAMA Pusat belum lama ini menggelar Seminar Nasional tentang  kebudayaan Nusantara  selama dua hari, 16 – 17 Desember 2011. HB X berbicara secara mendasar dengan membangun seruan paradigmatik tentang apa yang disebut substansi strategi kebudayaan dalam kebutuhan membentuk budaya unggul melalui frasa simbolik “pamenthange gendewa dan pamenthenge cipta.” Maksudnya, suatu tindakan mesti didasari oleh konsentrasi pikiran mendalam.
Menarik sekali bahwa dalam pidato kuncinya itu HB X berwacana historis dengan menyitir  Hromnik, sejarawan Amerika, di abad ke 1 sampai ke 10, orang- orang Luwu, Sulawesi Selatan telah nglurug ke Afrika Selatan sebagai buruh tambang emas. Bahkan, menurut legenda, setelah Mahapatih Gadjah Mada undur diri dia memimpin ekspedisi pelayaran menuju Madagaskar (dan betapa miripnya nama Gadjahmada dengan Madagaskar ini).
Jika gendewa dan cipta (nalar) kebangsaan memang mau ‘dipenthang’ (secara lahiriah ditarik ke belakang sebagai syarat pelepasan busur)   dan ‘dipentheng’ (direfleksikan) secara batiniah, sejarah Indonesia sebagai pewaris sah Nusantara memang benar  membutuhkan pembalikan paradigma. Yakni, statika budaya agraris yang selama berabad- abad mengawal peradaban perlu diganti secara revolusioner dengan budaya kebaharian. Dengan kata lain, dibutuhkan suatu penyadaran kolektif  agar  elan vital kelautan sebagai orisinal kejiwaan nasion dapat terbangkitkan kembali. Itulah sebuah impetus kebangsaan seperti disadari sepenuhnya oleh Sukarno.
Dalam pidato “Lahirnya Pancasila” 1 Juni 1945, Sukarno menghendaki bahwa negara yang akan didirikan dapat mewujudkan suatu negara kebangsaan atau nationale staat. “Kita hanya dua kali mengalami nationale staat, yaitu di zaman Sriwijaya dan di zaman Majapahit…. Saya berkata dengan penuh hormat kepada Sultan Agung Hanyokrokusumo bahwa Mataram, meskipun merdeka, bukan nationale staat. Dengan perasaan hormat kepada Prabu Siliwangi di Pajajaran, saya berkata, bahwa kerajaannya bukan nationale staat.” Demikian juga halnya Kerajaan Banten di bawah Sultan Agung Tirtayasa dan Kerajaan Bugis di bawah Sultan Hasanuddin.
Maka itu, Sukarno dan founding fathers memimpikan suatu nationale staat ketiga sesudah Sriwijaya dan Majapahit.  Sriwijaya, jelas merupakan kerajaan maritim yang sangat kuat, di lain pihak meskipun  kerajaan semi-maritim – beribukota di tepi Kali Brantas— Majapahit adalah kerajaan  besar yang memiliki kekuatan maritim sangat kuat terutama dengan kepemimpinan Mahapatih Gadjah Mada yang amat perkasa. Gadjah Mada bukan hanya menaklukkan, tetapi sekaligus mempersatukan kerajaan- kerajaan di seberang lautan sampai ke semenanjung Malaka,  Siam, Ternate dan  Irian. Tak akan terbantah bahwa dalam perjuangan seperti itu membutuhkan dukungan kekuatan tentara laut yang gagah berani. Gadjah Mada rupanya sadar bahwa nenek moyangnya jauh di masa silam sudah mampu berlayar sampai Afrika, melintasi Samudera Hindia yang maha luas.
Bahkan Kerajaan Singasari dan Kediri sebelum Majapahit sudah mengirimkan ekspedisi Pamalayu ke semenanjung Malaka. Prabu  Kertanegara sudah sanggup mengusir ribuan tentara Kubhilai Khan yang tentunya memiliki daya tempur lautan yang hebat. Last but not least, melanjutkan perjuangan dalam perang laut ini,penguasa kerajaan Demak  Adipati Unus dan Ratu Kalinyamat  pun mampu menyerbu Johor.
Dengan fokus upaya pemersatuan dan bukan terutama penaklukan, Gadjah Mada adalah simbol persatuan kenusantaraan masa itu. Setelah sukses menebas pemberontakan Sadeng, Gadjah Mada mengikrarkan “Sumpah Palapa”-nya yang kesohor. Ikrar itu berisikan pantang “amukti Palapa” sebelum Majapahit sanggup merambahkan kejayaannya di seluruh tanah Nusantara: Gurun, Seram, Tanjungpura, Haru, Pahang, Dompu, Bali, Sunda, Palembang dan Tumasik.
Sebagaimana dinyatakan oleh sejarawan Slamet Mulyana dalam “Negarakertagama dan Tafsir Sejarahnya,” Amukti Palapa sama sekali bukan kehendak meminum air palapa seperti dikisahkan sementara guru, melainkan menikmati rehat. Inilah sebuah teladan konkret bahwa seorang satria negara harus menyelesaikan dahulu misi kenegaraan secara tuntas sebelum mengambil keputusan istirahat.
Gadjah Mada juga memberi contoh sikap  elegan kenegarawanan dalam kinerjanya. Dia pernah menolak untuk dicalonkan sebagai pengganti Mahapatih Arya Tadah sebelum terbukti dia mampu menumpas pemberontakan Sadeng. Baru setelah misi itu selesai, Gadjah Mada bersedia diangkat menggantikan Arya Tadah, terlebih Arya Tadah sendiri saat itu sedang dalam keadaan sakit. Kebesaran jiwa Gadjah Mada, begitu pula kehebatan prestasi kerjanya, membuat Bung Karno memberi nama universitas negeri tertua di Indonesia dengan nama Universitas Gadjah Mada.
Sukarno sendiri meneladani dan melanjutkan ‘mindset’ Gadjah Mada. Dalam memimpin negeri dan rakyatnya, Sukarno menempatkan Pancasila terutama sebagai ideologi persatuan persis Gadjah Mada yang sukses mempersatukan seluruh kerajaan di Nusantara ini. Sama juga dengan Gadjah Mada, Sukarno senantiasa berupaya membangun negerinya agar terhormat di mata dunia sehingga  rakyat senegeri merasakan harkat kebangsaan. Gadjah Mada dan Sukarno adalah dua putra Nusantara yang agaknya tak ada duanya sampai hari ini menyangkut kebesaran namanya di mata dunia yang berimplikasi pada kebesaran negeri yang dipimpinnya.
Dalam visi kenusantaraannya, baik Gadjah Mada maupun Sukarno sama berangkat dari ide geopolitik. Nusantara di zaman Majapahit dan Indonesia di zaman Sukarno adalah nama besar, maka itu harus digagas dalam konsep-konsep besar sehingga Sukarno dengan cerdas dan tegas mengubah nama Samudera Hindia menjadi Samudera Indonesia. Sama halnya Gadjah Mada, Sukarno adalah pemimpin negeri yang amat sadar akan fungsi dan makna sejarah bukan hanya sebagai kapstok tempat menempelkan ingatan masa silam melainkan sebagai wahana perjuangan. Sejarah bagi mereka harus ditransformasikan sebagai kekuatan yang mampu mewujudkan gerakan dialektika zaman, bersama alam yang diberikan Tuhan membangun sintesis- sintesis kreatif bagi pengindonesiaan Indonesia.
Demikian maka dalam  pikiran Sukarno, generasi baru wajib mengambil api, dan tentu bukannya abunya sejarah. Hal ini adalah persis pernyataan Ernst Cassirer, generasi masa kini tidak menghadapi masa lalu dengan sikap seorang kolektor melainkan menyikapi sejarah sebagai proses materialisasi roh kelampauan. Benar kata filsuf Romo Sindhunata belum lama, betapa masa lalu tak akan pernah sia-sia berhubung kelampauan adalah ke-belumselesai-an dan tugas kita di masa kini adalah merengkuhnya. Sejarawan besar abad silam, Herder, menegaskan pula bahwa sejarah bukan cuma gerak mengumpulkan masa lalu melainkan membangkitkan kembali pesan dan misinya.
Maka itu, dalam rangka nation and character building, atau dalam frasa ‘trendi’ masa kini “pendidikan karakter,” bangsa Indonesia yang kini masih mempercayai ideologi Pancasila sebagai bintang pembimbing harus mampu menafsirkan misinya  berakar pada  pidato Sukarno 1 Juni 1945. Tafsir Pancasila 1 Juni 1945 itulah sebuah tafsir paradigmatik  berhubung misi kepancasilaan itu sejatinya adalah misi emansipatoris sebagaimana komunitas kaum pelaut  yang senantiasa diperhadapkan pada kondisi to be or not to be. Kondisi inilah sebagai ground  kelahiran  ideologi Pancasila yang orisinal, sebuah kondisi yang dalam proses pembangsaan dan pengindonesiaan akan sering datang berulang. Dalam pidato “Lahirnya Pancasila” ditegaskan: ”Kemerdekaan hanyalah diperdapat dan dimiliki oleh bangsa yang jiwanya berkobar-kobar dengan tekad”Merdeka, merdeka, atau mati !”
Dalam upaya emansipasi kolektif nasib kebangsaan itulah Pancasila  mengajarkan “perjuangan” sebagai kata kuncinya, seperti dinyatakan oleh penggalinya:” Tetapi saya sendiri mengerti seinsyaf-insyafnya, bahwa tidak ada satu Weltanschauung dapat menjelma dengan sendirinya, menjadi realiteit dengan sendirinya. Tidak ada satu Weltanschauung dapat menjadi kenyataan, menjadi realiteit, jika tidak dengan perjuangan.”  (“Lahirnya Pancasila,” 1945).
Camkan juga Sukarno mengambil tamsil kelautan:” Jangan mengira bahwa dengan berdirinya negara Indonesia merdeka itu perjuangan kita telah berakhir…yakinlah, insyaflah, tanamkanlah dalam kalbu Saudara-saudara, bahwa Indonesia merdeka tidak dapat datang jika bangsa Indonesia tidak berani mengambil risiko, tidak berani terjun menyelami mutiara di dalam samudera yang sedalam-dalamnya.”
Indonesia masa kini membutuhkan pemimpin besar yang berani mengambil segala risiko guna membalikkan ‘mindset’ kolektif, dalam kebutuhan urgen  membangun diri berlandaskan paradigma kelautan dengan/ dalam  spirit kebaharian. Bukan paradigma statis negeri agraris yang dalam kenyataannya terus mengimpor beras. Paradigma baru ini barang tentu akan berimplikasi bukan hanya pada bangunan kultur dan etos nasion, melainkan  sekaligus pada perubahan besar struktur dan penataan ulang kebirokrasian dan ketentaraan.
Bagaimana dengan mentalitas kejawaan yang adem-ayem sepi dari gelora kehidupan, ‘alon-alon waton kelakon ?’ meski kemiskinan mendera dirinya ? Tidak usah khawatir, bila pemimpin mampu menyiapkan kondisionalitas, ada satu pupuh tembang Kinanti berikut ini: “Mideringrat angelangut; lelana njajah nagari;mubeng tepining samodra; tumenga angganing wukir; analasak wana wasa; tumuruning jurang trebis.” (Berkeliling dunia makin jauh; berkelana ke berbagai negeri; mengelilingi batas lautan; menjenguk pula leher gunung-gunung; menerabas rimba raya; menuruni jurang  yang rumpil). Ternyata mental kejawaan pun mengenal frasa penjelajahan dunia, mudah-mudahan memang benar bahwa Gadjah Mada di era pensiunnya memimpin perjalanan sampai Pulau Madagaskar. Dan mental jelajah itu – khas mental seorang pelaut yang pasti berani ambil risiko— bagi kaum muda masa kini terutama adalah penjelajahan pikiran melalui studi serius demi masa depan diri, negara dan tanah airnya. Sayangnya, mahasiswa dan murid sekolah kini malahan mengerjakan ujian dengan nyontek….Ini bukan mental  kepelautan, melainkan mental pemabuk.  q-k-(3844A-2011).
*) Slamet Sutrisno, Pengajar Kebudayaan Indonesia di UGM.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s