CATATAN AKHIR TAHUN ; Demokrasi Minus Kesejahteraan ===> Oleh : Indra Tranggono

CATATAN AKHIR TAHUN ; Demokrasi Minus Kesejahteraan ===> Oleh : Indra Tranggono
26/12/2011 12:49:17 Apa yang bisa dibanggakan dari demokrasi liberal? Pertanyaan itu penting diajukan, ketika rakyat ternyata tidak memperoleh kesejahteraan dari tata kelola kekuasaan negara yang di-drive oleh demokrasi liberal. Bahkan, rakyat semakin terpuruk. Bukan hanya karena sikap abai negara dalam pemenuhan hak-hak fundamental rakyat seperti pendidikan, kesehatan, pelayanan sosial dan pengembangan budaya melainkan juga perlindungan.
Pelbagai kekerasan (fisik, psikologis, politik, sosial)  terjadi di banyak tempat dan telah memakan korban dari pihak rakyat. Amanat konstitusi  bahwa negara wajib melindungi seluruh tumpah darah Indonesia pun semakin kabur. Banyak kekerasan justru dihadirkan negara.
Mitos Demokrasi
‘Selama ini demokrasi dimitoskan sebagai sistem yang paling ampuh untuk mengangkat harkat kehidupan rakyat. Celakanya, mitologisasi itu tanpa reserve. Padahal, demokrasi membutuhkan syarat mendasar yakni kesetaraan baik dalam soal ekonomi, pendidikan maupun power. Tanpa syarat-syarat itu, yang terjadi adalah kooptasi dari kelas berkuasa terhadap kelas tanpa kuasa. Inilah yang terjadi di negeri ini, di mana demokrasi dikuasai penguasa, birokrat, teknokrat dan pengusaha. Rakyat hanya menjadi objek alias pelengkap penderita demokrasi. Dalam konteks ini, demokrasi liberal yang di-drive kapitalisme telah memunculkan represi kapital melalui penerapan biaya hidup tinggi yang tidak terjangkau rakyat. Juga, ukuran-ukuran kemanusiaan yang didasarkan pada materialisme dan daya beli. Kenyataan pahit pun menyergap hati kita: dehumanisasi!
Di sisi lain, demokrasi tanpa kapabilitas, komitmen, integritas dan transparansi hanya melahirkan korupsi. Praktik politik demokrasi liberal di negeri ini, terbukti lebih banyak melahirkan para penyelenggara negara yang korup. Mereka memahami kekuasaan sebagai mesin penyedot uang, bukan mesin penetas harapan-harapan rakyat atas kesejahteraan. Demokrasi pun berjalan minus kesejahteraan.
‘Negara Kuli’
‘Fenomena juragan politik (pengusaha) dan kuli politik (politisi) pun menyeruak. Dengan modal uang kuat, juragan politik melakukan kapitalisasi kekuasaan untuk menggaruk keuntungan sebesar-besarnya. Mereka memanfaatkan kuli-kuli politik untuk menguasai setiap lini kehidupan. Mimpi kita tentang negarawan dan negara kesejahteraan harus dikubur dalam-dalam.
Dalam negara yang dikelola dengan logika kapital, rakyat adalah entitas yang dianonimisasi dan direduksi menjadi sekadar konsumen. Anonimisasi rakyat tampak pada hilangnya hak-hak rakyat untuk disejahterakan, dicerdaskan dan dilindungi. Pereduksian atas rakyat menjadi konsumen tampak pada praktik-praktik negara sebagai penyokong kuat bahkan menjadi (bagian dari) penyelenggara pasar bebas. Negara hadir sebagai lembaga yang menyembah genderuwo liberalisme ekonomi.
‘Kini bangsa ini dihadapkan pada seting buram: ancaman terurainya ikatan kebangsaan akibat individualisme yang menguasai negara. Liberalisme yang dipompa kekuasaan kapital dan pasar telah sukses memecah dan memilah entitas bangsa menjadi individu-individu berlabel status tertentu berdasarkan fungsi. Ikatan-ikatan emosional kebangsaan pun memudar, di mana sikap rela berkorban dikalahkan sikap mengorbankan orang/pihak lain.
Negara, akhirnya tak lebih perusahaan yang dikuasai kelompok elite politik dan ekonomi, di mana warga-bangsa dihargai berdasarkan fungsinya yang menguntungkan korporat, bukan berdasarkan hak konstitusional. Di luar ketentuan itu, negara merasa sah untuk ‘mengusir’  (mengalienisasi) warganya ke ceruk-ceruk penderitaan.
‘Mengembalikan kedaulatan ke tangan rakyat berarti mengembalikan negeri ini kepada rel ideologis (Pancasila) dan konstitusi (UUD 45). Kita tidak membutuhkan kemewahan artifisial  dan kemakmuran yang hanya bisa dinikmati kelas berkuasa beserta kroni-kroninya. Kita membutuhkan negara yang punya cita-cita besar membangun kebudayaan dan martabat bangsa. Hidup sederhana namun berbudaya dan bermartabat jauh lebih baik daripada hidup dalam dunia ‘seolah-olah’ seperti yang dipompakan kapitalisme liberal.
Dalam kebudayaan dan martabat itulah, bangsa kita bisa menggali dan mengeksplorasi potensi-potensi otentik untuk mencapai tiga hal yang mendasar, yakni politik yang berdaulat, ekonomi yang berdikari dan kebudayaan  yang  berkepribadian (‘Tri Sakti’  Soekarno). Saatnya, ‘negara kuli’  harus diakhiri. q – o. (3837-2011).
*) Indra Tranggono, Budayawan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s