Pancasila sebagai Jiwa Bangsa Indonesia

DENGAN PANCASILA SEBAGAI JIWA BANGSA

MEMBANGUN INDONESIA ABAD 21.

Oleh : Hero setiawan.

Cilacap, 6 Juni 2011

Pemrasaran disampaikan pada acara dialog publik di Gd. DPC PDIP Cilacap.

Ass. Wr. Wb.

Salam sejahtera bagi kita semua dan selamat malam.

Tanggal 1 Juni selalu kita peringati sebagai hari lahirnya Pancasila dan tanggal 6 juni adalah hari lahir sang Penggali Pancasila dan Bapak Bangsa Bung Karno.

Dalam pertemuan ini seperti ini selalu menangkap kerisauan dalam mencari jalan keluar atas berbagai kemandegan, bahkan kemunduran yang dialami bangsa ketika justru kebebasan sudah didapat di era reformasi.

Dalam beberapa tahun terakhir, terjadi disorientasi wawasan pada sebagian warga kita sebangsa. Manifestainya melemah dari dan cita-cita pendiri bangsa dan menyuburkan sektarian ekstrim dan primordialisme dll.

Dalam hal-hal inilah kita tergugah untuk mereview dan menegaskan kembali  keindonesiaan kita..

Tidak ada satu negara dimuka bumi ini yang memiliki begitu banyak perbedaan seperti Indonesia. Negara yang pernah membuat bingung futurolog Alfin Toffler, karena memiliki empat (4) peradaban sekaligus : peradaban primitif, pertanian, industri dan informasi. Dan memiliki keunikan mempunyai tiga (3) zone waktu berbeda-beda. Negara yang baru merdeka diabad duapuluh (20) ini mempunyai berbagai kemungkinan untuk hancur berantakan. Demikianpun letak kepulauan nusantara dalam posisi silang antar benua dengan disatu sisi mudah terbentuk pertautan dengan budaya dunia, dilain pihak mudah membawa masuknya agen filosofis timur (arab/cina) maupun agen filosofis barat (kolonialis-kapitalis), nampaknya sejauh dapat di cerna sistem sosial dan tata nilai setempat unsur asing dapat diterima, fakta nya budaya kita memiliki keliatan/kekenyalan untuk beradaptasi,. Namun rekaman perjalanan sejak tahun 1945 hingga era reformasi diwarnai oleh hampir tercabik-cabiknya bangsa oleh bergolaknya berbagai kepentingan golongan dan kedaerahan diatas kepentingan bersama.

Dilatar belakangi hal inilah semestinya bukan hanya saat dihadapkan pada tekanan sektarianisme kita ingat landasan hidup bersama sebagai bangsa dan menyadari perlu dan pentingnya dasar bersama negara sebagai indikator perekat, titik temu perbedaan multi agama dan landasan gerak membangun bangsa.

Dalam hal ini para pendiri bangsa Bung Karno benar. Menyadari keanekaragaman; dengan kira-kira menggali suatu pertanyaan: “adakah suatu dasar politik yang dapat diterima bersama”. Inti jawaban pertanyaan itu adalah paparan “Bangsa adalah tekad hidup bersama”;dengan mendasarkan pada ide filsafat Ernest Renan. Dari paparan ini pulalah menjadi pengertian tersirat bahwa bangsa bukan suatu pengertian yang deskriptif. Jadi istilah bangsa bukan menyatakan suatu keadaan, tetapi suatu gerakan, suatu kemauan sekaligus suatu usaha. Berarti kita selalu terus menerus mempersatukan aspirasi semua entitas etnik yang hidup. Pengabaian akan hal ini dasar pembentukan bangsa dalam sejarahnya kita mengalami kerumitan berbagai bentuknya. Contohnya soal integrasi bangsa belum selesai.

Jadi seperti paparan uraian pertama kali didepan BPUPKI 1 Juni 1945 dengan cetuskan konsep Pancasila, adalah merupakan rekontruksi atas apa yang hidup (jiwa) dimasyarakat nusantara.dan diidealisasikan sebagai dasar kehidupan bersama itu disarikan kedalam lima Sila. Disebutnya  Pancasila oleh pendiri bangsa tidak hanya sebagai dasar negara namun sekaligus juga pandangan akan dunia (weltanchung).

Proses diterimanya Pancasila sebagai falsafah negara oleh para pendiri bangsa melalui perdebatan panjang dan melelahkan berbagai kelompok dapat menjadi titik picunya indikator perekat perbedaan dan titik temu multi agama. Namun demikian, oleh sebab itu kita mengerti akan adanya dan masih terdapatnya pemahaman yang berbeda-beda atas tafsir otentik Pancasila. Selain pemahaman Pancasila 1 Juni, 22 Juni dan Pancasila 18 Agustus 1945 dan bahwa ada yang menganggap makna penafsiran bebas diterjemahkan menurut selera masing-masing. Seolah-olah menggambarkan pertentangan versi-versi diatas. Namun jika kita telusuri dalam prespektif historis seluruh tahapan pembahasan merupakan keseluruhan proses politik dari kesatuan pemikiran, jiwa dan semangat serta kesadaran para pendiri bangsa sebagai perumus bersama Pancasila, kini Pancasila 18 Agustus 1945 telah menjadi konsensus bersama.

Sehingga melembagakan peringatan hari lahirnya Pancasila 1 Juni menjadi jelas dalam rangka pelurusan dan untuk memberikan “Roh” bagi Pancasila  bangsa Indonesia. Jadi pengakuan terhadap Pancasila 1 Juni 1945 bukan pada bentuk formalnya yang urut-urutannya berbeda dengan Pancasila dalam pembukaan UUD 1945, tetapi dalam azas dan pengertiannya yang tetap sebagai jiwa dan semangat sebagai dasar negara. Hal ini merujuk pada Pidato Prof. Mr. Notonagoro pada promosi gelar Honoris Causa kepada bung karno di UGM.

Sekaligus semakin jelas bahwa Pancasila hanya satu, sebagaimana termaktub dalam alinea ke 4 UUD1945. sesuai jiwa dan semangat 1 juni 1945.

Pancasila adalah dasar negara kebangsaan yang bersifat final

Kini, setelah 65 tahun merdeka ide ini diambil; melewati pergantian rezim kekuasaan silih berganti dan meskipun UUD 1945 telah dimandemen 4 kali Pancasila tetap menjadi dasar dan ideologi negara. Karena Pancasila ada dalam konstitusi (UUD1945) maka menurut teori Mazhab pertingkatan hukum Hans Kelsen dikatakan berkedudukan sebagai norma dasar (Grundnorm) atau kaidah tertinggi. Sedang jika ditinjau dari Mazhab sejarah hukum Pancasila dapat digolongkan sebagai jiwa bangsa (volksgeist), Menurut Friedric cave savigny.

Pada era reformasi ini dinamika kehidupan bangsa banyak hal dirasakan, disadari berbagai pihak bangsa kita telah kehilangan arah, dirasa kehilangan fungsi-fungsi negara terutama saat masyarakat membutuhkan kehadiran negara. ini tidak terlepas dari kondisi bangsa yang sejak era reformasi semakin demokrasi kebablasen dan jarang membahas konsep pelaksanaan Pancasila, baik dalam konteks ketatanegaraan, kebangsaan, kemasyarakatan maupun akademik; apalagi ditunjang fakta yuridis sebagaimana dalam UU No, 10 tahun 2004 tentang pembentukan Peraturan Perundang-undangan; telah kehilangan pedoman untuk memahami tafsir Pancasila sebagai sumber hukum, hanya karena Pancasila ada dalam konstitusi (UUD 1945) dinyatakan tetap menjadi dasar ideologi negara.

Dengan jiwa dan semangat 1 Juni 1945; tafsir Pancasila mengakomodir pluralisme, penghargaan HAM, Demokrasi, keadilan sosial  dan mampu mendorong para pemeluk agama untuk berpartisipasi aktif dalam membangun bangsa dan kesetaraan. Ini menegaskan semakin jelas Pancasila dapat menjadi model negara nasional yang demokratis dan beradab.

Persoalannya terlupakannya pancasila, bukan pada tidak diterima; pengabaian dasar pembentukan bangsa seperti dijelaskan dimuka, akan mengalami distorsi dari maksud dan cita-cita tujuan sebenarnya dan hal ini pada kebijakan politik masa lalu; kepentingan rezim represiflah yang memutar balikkan orientasi falsafah negara dan kini dirasakan pula ada rasa semakin jauh berbagai kebijakan publik dari prinsip-prinsip dasar Pancasila. Ditambah sistem politik kini arah perjalanan bangsa digantungkan pada program ditangan presiden seorang saja semakin haluan negara tidak tentu arahnya.

Kini, keharusan Agenda kita; ada keinginan kuat untuk mengembalikan tatanan bernegara, berbangsa dan bernegara pada posisi jiwa dan semangat awal pembentukan; yang terangkum dalam 4 pilar: yakni; Pancasila, UUD 1945, Binneka Tunggal Ika dan NKRI. Momentum ini mestinya kita kawal, konsolidasikan dalam wadah lembaga bersama dan dorong bersama-sama supaya bukan hanya sebatas pernyataan saja atau sebatas Pancasila ada didalam konstitusi saja, tanpa mendasari produk kebijakannya, kalau yang terjadi begitu juga kiranya sulitlah berharap era waktu merevitalisasi kembali.

Mesti disadari dan pahami bersama; berpolitik adalah bernegara dan bernegara adalah berkonstitusi. Prinsip kesetaraan ada dalam Prinsip konstitusionalisme. Prinsip konstitusionalisme adalah mutlak. Dengan bernegara dan berkonstitusi kita warga menyatukan obsesi sama dalam memberikan arah kehidupan, memberikan arah perjuangan atas hal-hal kebijakan negara-pemerintah harus berkesesuaian dalam cita-cita negara ini didirikan. Prinsip konstitusionalime membuka ruang jalan damai perjuangan membumikan prinsip-prinsip dasar (nilai intrinsik) Pancasila untuk dapat memujud menjadi kenyataan.

Dalam bahasa hukumnya kurang lebih Artinya Bahasa kaidah  dan bahasa peraturan berbeda. Kaidah mengandung pesan moral yang harus dijunjung tinggi masyarakat dan negara, sedang peraturan dirancang agar kaidah dapat dioperasionalkan dan dengan parameter penegakkannya yang jelas.

Dengan demikian Pancasila adalah kaidah norma dasar bersifat final, sedang dinamika ruang dan waktu diakomodir/diamandemen melalui peraturan perundangan.

Dalam kerangka pemikiran ini, mendorong pemerintah melembagakan peringatan hari lahir 1 juni setiap tahunnya melalui Kepres yang menetapkan 1 juni 1945 sebagai hari lahir Pancasila; adalah merupakan sikap sudah seharusnya bagi para pendukung Pancasila sebagai jiwa bangsa. Dengan  Pancasila di tautkan dengan 1 Juni menutup rezim kekuasaan berbuat represif dan sewenang-wenang dan Pancasila mempunyai pijakan yang jelas dan mampu berhubungan konteks sosial yang berkembang.

Sudah saatnya gerakan-gerakan perlu dilembagakan upaya gerakan berkesinambungan untuk membumikan Pancasila dan  mengawal produk kebijakan peraturan sampai ditingkat legislatif diselaraskan dengan cita-cita awal tujuan negara didirikan ini. Hal ini menjadi penting; tidak semua hal bisa dilakuan atas nama demokrasi.                                                                                                                                           Ketidakmampuan terutama penyelengaara negara membumikan Pancasila dapat mengantar kita kearah anarkis dan membuka peluang terjadinya desintegrasi bangsa.

—————————————————————————————-

Hero setiawan

Penulis Buku:

  1. Memahami Hukum agar Terhindar dari Jerat Tindak Pidana Korupsi
  2. Pancasila dan Bung Karno. Biografi Humanisme Indonesia, suatu ikhtiar sejarah.

3 responses to “Pancasila sebagai Jiwa Bangsa Indonesia

  1. Ping-balik: Pancasila Dikepung Dua Ideologi Fundamentalisme | Bani Madrowi·

  2. Ping-balik: Bani Madrowi·

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s