Humanisme Indonesia- Biografi Bung Karno

PANCASILA DAN BUNG KARNO

BIOGRAFI – HUMANISME INDONESIA

Setelah lebih satu abad kelahirannya dan dari Indonesia merdeka sampai kini jaman; berbagai inovasi dari mulai perubahan sistem kenegaraan sampai dengan otonomi Daerah, namun belum menemukan jalan keluar kemerdekaan sejati, justru terjadi disorientasi wawasan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, nampak gejala-gejala intoleransi dengan segala bentuknya seakan mengarah kemandegan; hal tersebut perlu inspirasi membangun kesadaran pemahaman terhadap ideologi, konstitusi, NKRI dan Bhineka Tunggal Ika; khusususnya inspirasi pemikiran Bung Karno dalam mencari jawaban meningkatkan kualitas hidup rakyat.

Menilik tulisan dan pidatonya, titik pusat perjuangan Soekarno adalah pergulatan kemanusiaan; membebaskan rakyat dari segala penindasan dan penghisapan akibat kolonialisme dan imperialisme. Kalau sebuah pemikiran Humanisme merupakan keyakinan yang dirasakan mendalam bahwa kita harus memperlakukan setiap manusia sebagai manusia tanpa melihat perbedaan jenis kelamin, ras, warna kulit, kemampuan fisik atau mental atau bahasa, agama, setiap manusia memiliki martabat asasi dan tidak dapat diganggu gugat, seperti kata Hans Kung dan Karl-Josef Kuschel (dalam etik global,1999); Pemikiran Sukarno sama sebangun dengan humanisme asli konteks Indonesia bersifat universal.

Terutama semasa tahun 1926–1933 Soekarno berupaya menyempurnakan terus pergulatan kemanusiaan. Pemikirannya dipengaruhi membaca alam jamannya, liberalisme, eksistensialisme, marxisme, agama dan pada waktu itu memang notabene arus pemikiran kiri banyak mempengaruhi yang senafas dengan Marxisme sebagai pisau analisnya; menurutnya pemikiran kiri adalah sebuah pemikiran keadilan sosial.

Dasar pemikirannya adalah fakta sejarah bahwa kehidupan masyarakat adil, makmur, sejahtera dan zonder  “i’exploitation de I’homme par I’homme” (penghisapan manusia oleh manusia) adalah suatu kehidupan ideal itu yang dicita-citakan seluruh rakyat indonesia. Cita-cita kehidupan ideal adalah hakekat hidup manusia karena bersumber dari tujuan budi nurani manusia. Demikianlah inti dasar (term ad quo) pemikiran sukarno adalah Budi Nurani Manusia selanjutnya dikembangkan dalam konteks indonesia menjadi Marhaenisme. Dan selanjutnya berdasarkan masukan utama dari Soekarno terbentuk perumusan tujuan kemerdekaan dan dasar negara Pancasila sebagai pondamen (meja statis) landasan bersama berbangsa dan bernegara.

          Sebagai prinsip-prinsip dasar; Pancasila mempunyai nilai intrinsik keindonesiaan yang pada dirinya sendiri merupakan tujuan yang masih bersifat umum universal. Karena pengaruh Dinamika perkembangan masyarakatlah dan belum dikembangkan nilai instrumental (meja dinamis) sebagai aplikasinya maka perkembangan jaman seakan tak diketahui arahnya. Melalui pembacaan masyarakat dan pemikirannya dalam ikhtiar sejarah, menggugah inspirasi pengetahuan filosofi berbangsa dan bernegara menjadi mempunyai arah pencerahan pilar kebanggsaan Indonesia.

Ihtisar Perkembangan Sejarah

PANCASILA DAN BUNG KARNO

BIOGRAFI – HUMANISME INDONESIA

6 Juni 1901

Soekarno dilahirkan di Lawang Seketeng Surabaya, dari pasangan Ida Ayu Rai Srimben. Ida Ayu Nyoman Rai Asal Singaraja (Bali) dan Raden Soekemi Sosrodihardjo (Probolinggo, Jawa Timur).

Setelah pindah sebentar ke Sidoarjo, keluarga Soekemi menetap di Mojokerto, Jawa Timur, dan Soekarno  mulai bersekolah di Sekolah Dasar zaman Belanda hingga kelas lima. Lalu ia melanjutkan pendidikan ke Europeesche Lagere School (ELS), sekolah Eropa Berbahasa Belanda, di Surabaya.

1915

Masuk Hoogere Burger School (HBS) sekolah menengah Belanda, dan ikut menumpang di rumah HOS Tjokroaminoto, Ketua Sarekat Islam. Di situ, dia berkenalan dengan tokoh-tokoh senior pergerakan dan memulai proses magang politik.

21 Januari 1921

Artikel Soekarno yang pertama terbit di halaman depan koran Oetoesan Hindia milik Sarekat Islam. Soekarno menikah dengan Oetari Tjokroaminoto yang menjadi perkawinan pertama Soekarno.

Pertengah 1921

Kuliah di Technische Hooge School – ( sekarang bernama Institut Teknologi Bandung).

1923

Menikahi Inggit Garnasih

25 Mei 1926

Mendapatkan gelar insiyur dari THS. Hotel Preanger adalah salah satu karyanya.

Pertengahan 1926

Ikut mendirikan Klub Studi Umum, Bandung, klub diskusi berubah menjadi gerakan politik radikal. Terbit artikelnya yang terkenal: “Nasionalisme, Islamisme dan Marxisme” dalam Suluh Indonesia Muda (1926) yang menegaskan bahwa “nyawa pergerakan rakyat Indonesia mempunyai tiga sifat, yaitu NASIONALISTIS, ISLAMISTIS DAN MARXISTIS”. Pernyataan Soekarno” Bukannya kita mengharap, yang Nasionalis itu supaya berobah faham jadi Islamis atau Marxis, bukannya maksud kita menyuruh Marxis dan Islamis itu berbalik menjadi Nasionalis, akan tetapi impian kita ialah kerukunan, persatuan antara tiga  golongan itu”. Ditulis akibat  keprihatinan dia atas perseteruan  Si Putih pimpinan Agus Salim dengan Si Merah (Sarekat Islam) Semaun dkk. Padahal keduanya sayap dari Sarekat Islam (SI). Akhirnya anggota Sarekat Rakyat yang banyak merangkap keanggotaan dengan ISDV (Indische Socialisch Democratig Verenieging) pimpinan Sneevliet, Baars, dsb melebur dan mendirikan PKI (Partai Komunis Indonesia). Kemudian PKI dengan modal sejumlah basis kaum proletar di Jawa Timur dan Sumatra melancarkan pemberontakan. Namun pemberontakan ini mudah ditumpas habis oleh Pimpinan Kolonial Hindia Belanda.

Juli 1927

Selama beberapa hari pada bulan ini, Soekarno menurut pengakuannya saat memberikan kuliah tentang shaping and reshaping Indonesia di Bandung, 3 Juli 1957, dulu tahun 1926 – 1927, dia kerap berjalan-jelan ke sawah di sekitar Bandung Selatan . Konon pertemuannya dengan petani di Cigareleng itu, yang lalu mengilhami Soekarno untuk menamai femahamannya tentang sosionasionalisme dan sosiodemokrasi selaku tujuan dan asas perjuangannya sebagai marhaenisme. Yaitu yang diambil dari kata Marhaen sebagai istilah yang menggambarkan sosok rata-rata masyarakat Indonesia, yang memiliki tanah/sawah yang dikerjakan sendiri dengan alat-alat milik sendiri. Namun meski dikerjakan bukan untuk orang lain/pemodal lain, mereka tetap saja miskin. Kemiskinan rakyat ini, yang digambarkan Soekarno sebagai Marhaen, adalah akibat dimelaratkan oleh kapitalisme, imperialisme, kolomialisme dan feodalisme.

Namun apapun, terlepas dari kontroversi ada petani yang bernama Marhaen ada atau tidak, yang dilakukan Soekarno dengan rumusan nama Marhaen itu, sesungguhnya merupakan revisi dan kritik Soekarno atas doktrin dan teori marxisme-leninisme yang kemudian lebih dikenal dengan sebutkan komunisme.

Bagi Soekarno, belajar dari kegagalan pemberontakan PKI pada tahun 1926, membuktikan bahwa di Indonesia belum ada kelas proletar. Itu thesis pertamanya. Karena yang ada di Indonesia, terbanyak adalah marhaen, bukan proletar. Yang, jika dianalogikan di luar “profesi” petani, akan mencakup pula para pedagang kecil alias la petite bourgouise atau  pity capitalist.

Dari thesis ini Soekarno lalu meningkat ke thesis kedua, yang notabene menolak konsep pertentangan kelas di dalam perjuangan revolusioner untuk mewujudkan sosialisme. Sehingga thesis berikut Soekarno tentang revolusi di Indonesia, justru hanya mengenal dua tahap, yaitu Revolusi Borjuis Nasional dan Revolusi Sosialisme Indonesia.

Dalam revolusi borjuis nasional itulah kaum marhaen justru harus bersatu padu dengan para borjuis tanggung –sisa-sisa feodalis lama-, untuk menumbangkan kekuasaan kolonialisme asing demi memerdekakan dulu negara bangsa sebagai ruang hidup (jembatan emas ke gerbang kemerdekaan) untuk mewujudkan sosialisme Indonesia (merdeka dengan sempurna).

Baru setelah Indonesia Merdeka, dimulai penyiapan tahapan kedua revolusi sosialisme Indonesia dengan memerdekakan masing-masing individu bangsa dari kemiskinan dan kebodohan.

Dengan revisi dan thesis itu, sesungguhnya yang dimaksud sebagai Marhaenisme oleh Soekarno, justru bisa dibandingkan dengan formulasi pendekatan teori kewirausahaan (enterpreneurship) dari David Mc Cleland hampir 50 tahun kelak. Bedanya, Mcleland lebih menakankan pada upaya penanaman virus N.ach (Need for Achievement) atau kehendak untuk maju dari kalangan rakyat atau pengusaha kecil, sehingga notebene didomonasi oleh pendekatan fungsional. Maka pendekatan Soekarno atas Marhaen (pity capatalist), justru bersifat struktursl, yaitu melalui penanaman sikap progresif revolusioner.

4 Juli 1927

Mendirikan Perserikatan Nasional Indonesia (PNI) di Bandung. Pada kongres 1928, gerakan itu memproklamasikan diri sebagai partai, dengan nama baru: Partai Nasional Indonesia (PNI) yang berasaskan Marhaenisme, dalam rumusan ringkas sebagai visi ideologi yang memperjuangkan sosionasionalisme dan sosio-demokrasi.

28 Oktober 1928

Sumpah Pemuda. Berbagai kelompok pemuda menyatakan “memiliki bangsa, bahasa dan tanah air yang sama: Indonesia.” Lagu kebangsaan Indonesia Raya Pertama Kali diperdengarkan.

29 Desember 1928

Soekarno ditangkap bersama tokoh PNI lain dan dijebloskan ke tahanan Penjara Banceuy. Tuduhannya: merencanakan pemberontakan kepada Belanda.

Agustus 1930

Pengadilan Soekarno. Dalam pembelaannya yang amat terkenal “Indonesia Menggugat”, ia mengecam penjajahan dan menyerukan perlawanan. Untuk pertama kalinya dia memakai istilah “Marhaen” sebagai ganti kaum buruh (proletar), melalui risalah yang menggunggat kekejaman kolonialisme inilah, istilah marhaen menjadi semakin populer.

31 Desember 1931

Hukuman Soekarno dipotong dua tahun dan ia dibebaskan. Sebelumnya, PNI telah membubarkan diri pada tahun itu. Sebagian diantara anggota yang lebih berorientasi pada partai kader lalu mendirikan PNI Baru (Pendidikan Nasional Indonesia) dipimpin oleh Mohammad Hatta dan Sutan Sjahrir. Sebagian lagi yang berfaham radikal mendirikan Partai Indonesia (Partindo) dipimpin oleh MR Sartono. Soekarno kemudian masuk Partindo.

1932 – 1933

Soekarno mencoba lebih memerinci lagi pemahaman yang dia maksudkan tentang Marhaen dan Marhaenisme yang lebih mempertajam perbedaan di antara konsep Marhaen-nya dengan konsep Proletariat dari kaum sosialis barat, terutama dari kaum komunis. Prinsipnya kalau struktur masyarakat Eropa telah melahirkan kaum buruh sebagai golongan tertindas atau proletar, maka masyarakat Indonesia yang belum Industrialis mempunyai kaum Marhaen yang juga sengsara dan melarat.

Risalah Soekarno itu dimuat dalam Fikiran Rakyat. Pemahaman ini dikembangkan lebih lanjut lagi oleh Partindo menjadi Sembilan Tesis Pokok Marhaenisme dan Marhaenis. Rumusan Soekarno ini, bisa dilihat juga sebagai bentuk perlawanan terhadap analisa kelas yang dipertahankan dan dikembangkan sebagai ideologi oleh pesaingannya dari PNI Baru. Rumusan Soekarno juga mengubah visi ekonomi sosialisme Eropa yang berdasarkan kolektivisme menjadi konsep kebahagiaan dan keadilan sosial untuk ke-90% lebih rakyat marhaen Indonesia.

Agustus 1933

Soekarno ditangkap untuk kedua kalinya

21 November 1933

Soekarno menyatakan diri keluar dari Partindo

17 Februari 1934

Soekarno dibuang ke Ende, Flores. Di sini Soekarno banyak bergaul dengan penduduk setempat dan olah seni sandiwara. Yang paling penting adalah Soekarno sempat mendalami agama, khususnya Islam. Baik dari buku-buku kiriman yang dimintanya, maupun dari korespondensinya.

Inilah periode ‘Surat-Surat Islam’ dalam proses perkembangan Soekarno, yang terus berlanjut sampai saat pengasingan Soekarno dipindahkan ke Bengkulu

Februari 1938

— pengasingan Soekarno dipindahkan ke Bengkulu. Di sini Soekarno langsung terlibat dalam diskusi mengenai masalah sosial politik, khususnya dari tinjauan agama Islam, dengan sejumlah tokoh Muhammadiyah. Termasuk dengan Hasan pengurus Muhammadiyah setempat, yaitu ayah dari Siti Fatimah yang kemudian dinikahi dan berganti nama menjadi Fatmawati. Sementara Inggit yang menolak dimadu lalu meminta cerai dan pulang ke Bandung.

9 Juli 1942

Soekarno kembali ke Pulau Jawa dan merebut simpati rakyat sebagai pemimpin pergerakan Indonesia di zaman Jepang. Keberhasilan merebut simpati ini sesungguhnya, dipengaruhi oleh dua unsur utama yang saling berkaitan. Yaitu dukungan dari para pemimpin pergerakan yang menempuh pola kooperatif dengan balatentara Jepang (sehingga di mata pihak sekutu bisa dianggap sebagai kolabolator dan penjahat Perang) yang umumnya berasal dari kelompok Islam, contoh Haji Agus Salim dsb, dan yang berlatarbelakang kelompok nasionalis Jawa, seperti Ki Hajar Dewantara, dst. Jangan lupa selama masa di pembuangan, Soekarno juga kian memahami seluk beluk pemikiran dan unsur nilai radikalisasi Islam dan nilai tradisi serta budaya dari banyak kelompok etnis (Nusa Tenggara dan Sumatra) di Nusantara.

Dukungan yang lain, datang dalam bentuk pemahaman pentingnya strategi menempuh pendekatan berbeda untuk tujuan yang sama, yaitu kemerdekaan. Pemahaman berupa kesepakatan tertutup itu datang dari para pemimpin pergerakan yang memilih menentang pendudukan Jepang, (anti Fasis) dengan melakukan perlawanan bawah tanah, terbanyak berlatar belakang dan berorientasi Marxis, seperti Sutan Sjahrir, Tan Malaka dan Amir Sjarifudin.

16 April 1943

Membentuk Pusat Tenaga Rakyat (Poetera), yang ternyata dipakai Jepang sebagai pekerja paksa (romusha) dan menjadi propagandis Jepang.

7 September 1943

Penguasa Jepang menjanjikan kemerdekaan untuk Indonesia kelak di kemudian hari (namun mereka tidak memberitahukan batas waktu yang spesifik).

1 Juni 1945

Dalam rapat Banda Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI), Soekarno dalam pidatonya untuk menjawab pertanyaan ketua BPUPKI mengenai apa filosofi groundslaag atau dasar negara dari Indonesia yang akan dimerdekakan menawarkan lima prinsip groundslag terdiri dari : nasionalisme; internasionalisme/humanisme; demokrasi; keadilan; dan ke-Tuhanan yang selanjutnya sebagai Pancasila. Dengan alternatif, lima rumusan itu bisa disederhanakan jadi tiga prinsip, yaitu sosionasionalisme (gabungan pemadatan nasionalisme dan internasionalisme); sosiodemokrasi (gabungan demokrasi politik dan ekonomi) dan ke-Tuhanan, atau disebut Trisila (yang notabene sesungguhnya merupakan Marhaenisme dalam formulasi terbaru Soekarno hasil perenungan semasa pembuangan). Bahkan bisa diringkas pada menjadi satu prinsip kebersamaan yaitu gotong royong, atau disebut Ekasila. Tawaran Soekarno diterima aklamasi oleh seluruh anggota BPUPKI, yaitu dalam bentuk perumusan yang terdiri dari lima dasar. Rapat itu juga mempersiapkan dan merumuskan naskah Undang-undang Dasar sebagai konstitusi negara Indonesia, yang kelak akan dikenal sebagai UUD 1945.

22 Juni 1945

Perumusan tujuan kemerdekaan dan dasar negara Pancasila berdasarkan masukan utama dari Soekarno dalam pidato 1 Juni 1945, selesai dituntaskan dan ditandatangani oleh Panitia Kecil yang dibentuk BPUPKI untuk merumuskan satu naskah yang dipersiapkan untuk dibacakan sebagai dokumen pernyataan kemerdekaan Indonesia kelak, sekaligus guna dijadikan sebagai preambule konsitusi. Naskah yang juga ditandatangani oleh Mr MaX Maramis selaku wakil golongan Kristen ini, kelak akan dikenal sebagai Jakarta Charter atau Piagam Jakarta.

 

16 Agustus 1945

Soekarno menolak tuntutan pemuda untuk memproklamasikan Indonesia dengan alasan belum mendapat kepastian menyerahnya Jepang dalam perang. Mereka menculik Soekarno dan Hatta dan membawanya ke Rengasdengklok.

17 Agustus 1945

Proklamasi Indonesia dibacakan Soekarno dan Hatta, atas nama bangsa Indonesia. Berdasarkan naskah darurat yang dipersiapkan pada malam Jumat 16 Agustus 1945, dalam rapat mendadak sejumlah anggota BPUPKI dan para kelompok pemuda Menteng Raya.

18 Agustus 1945

Panitia Persiapan Kemerdekan  Indonesia (PPKI) bersidang dan menetapkan Soekarno sebagai presidan dan Mohammad Hatta sebagai wakilnya. Kelak mereka dikenal dengan Dwi-Tunggal. PPKI juga menetapkan UUD 1945, dengan Mukadimah yang diangkat dari seluruh naskah Piagam Jakarta tanpa mencantumkan tujuh anak kata” … dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya.”. disini peran Hatta, Ki bagus Hadikusumo, Wahid Hasjim, dan tokoh lain dalam menghapuskan tujuh anak kata, sebagaimana permintaan dari para wakil di kawasan Timur, sangat kuat.

19 September 1945

Satu bulan kemudian, tak kurang dari 300.000 orang berkumpul di Lapangan Ikada (Taman Medan Merdeka) 19 September 1945. hebatnya, massa sebanyak itu datang berkumpul berkat berita dari mulut ke mulut, yang antara laian diotaki oleh Adam Malik, Chairul Saleh, dkk. Sebenarnya rapat umum peristiwa Ikada itu semula direncakan akan digelar 17 september, tepat satu bulan setelah Proklamasi kemerdekaan. Namun karena ada ancaman Jepang dan Sekutu, rapat raksasa di Lapangan Ikada diundur 19 September.

Rapat raksasa di lapangan Ikada yang menggetarkan bala tentara Jepang dan Sekutu, karena bisa berarti pertumpahan darah besar-besaran, saat itu ternyata hanya bisa dikenadalikan dan ditenangkan oleh Soekarno. “Saudara-saudara percaya kepada saya? Nah kalau percaya, pulanglah dengan baik percayakan hal ini untuk kami selesaikan, “kata Soekarno, yang berhasil membuktikan kepada sekutu, bahwa dia presiden rakyat bukan Boneka Jepang.

Bahkan sejak peristiwa Ikada itu, perlawanan rakyat kepada penjajah terus menyebar ke seluruh negeri.

3 November 1945

Pemerintah mengeluarkan Maklumat X dari wakil Presiden Mohammad Hatta, yang isinya mendukung terbentuknya multi partai dan mengadopsi sistem parlementer. Ketua BP (Badan Pekerja) KNIP (Komite Nasional Indonesia Pusat) Sutan Sjahrir pun diangkat menjadi PM (Perdana Mentri) berikut basisan oposisinya yang terutama dipimpin oleh Tan Malaka, dkk.

Semua itu, ternyata mampu menyelamatkan Republik Indonesia yang beru merdeka ini dari upaya pembubaran oleh pihak sekutu selaku pemenang Perang Dunia II sebab Soekarno-Hatta selaku proklamator sekaligus Presiden (Kepala Negara) dan Wakil Presiden, tidak terkena tuduhan dan sanksi sebagai kolaborator Jepang.

Bagitu pula kecurigaan sekutu semula, bahwa republik baru ini tak lebih dari republik boneka buatan Jepang, otomatis terbantahkan, melihat ada tiga sayap gerakan bawah tanah justru tampil sebagai tokoh-tokoh pengendali negara eks koloni Belanda ini. Sebagaimana sekutu pemenang perang Dunia II yang terbelah menjadi blok barat dan Blok timur, kalangan pergerakan bawah tanah pun terpecah jadi dua kubu utama kelompok Sjahrir (PSI) yang dianggap dekat Blok Barat dan Kelompok Tan Malaka (Murba) yang dinilai berorientasi ke Blok Timur.

10 November 1945

Rakyat Surabaya yang terilhami oleh peristiwa Ikada memberikan perlawanan lebih bergelora bukan hanya kepada Belanda (NICA Neterland Indies Civil Administration), yang membonceng tentara sekutu, tetapi malah terhadap Inggris selaku pimpinan pasukan sekutu untuk melucuti Jepang di Indonesia. Perlawanan rakyat yang bersenjatakan apa adanya di Surabaya itu yang lalu memicu rentetan Perang Kemerdekaan. 

14 November 1945

Kabinet pertama yang baru berusia 3 bulan jatuh, digantikan kabinet kedua dengan bentuk parlemnter di bawah Perdana Menteri Sjahrir. Sejak saat itu, kabinet selalu jatuh-bangun.

Sehingga menanggapi fenomena kabinet seumur jagung itu, kemudian hari eksponen pemuda Menteng Raya 31 yang tak sabar lagi dipimpin Adam Malik pun berlangsung menemui Presiden  Soekarno dan memprotesnya: “Bung sudah jelas Bung Sjahrir tidak dipercaya lagi oleh rakyat, mengapa dia lagi bung angkat jadi PM. Kenapa bung tidak menunjuk Pak Tan? (program Tan Malaka Selaku pimpinan barisan oposisi adalah Merdeka 100%, beda dengan Sjahrir yang menerapkan pola pikir diplomasi yang membuka peluang pengakuan kemerdekan bertahap).”

Soekarno pun menjawab, “Adam ini bukan soal Sjahrir, Tan Malaka, Hatta atau Soekarno. Ini persoalan republik. Ini persoalan geopolitik dan geostrategi dalam menyelamatkan  kemerdekan Indonesia. Kita harus mampu mendayung dengan selamat dari hempasan ombak di antara kedua karang Bloik Timur dan Blok Barat dari Pihak Sekutu pemenang Perang Dunia II. Ingat yang mendapat wewenang Sekutu untuk melucuti bala tentara Jepang di Indonesia ini adalah Blok Barat. Dan itu adalah Amerika Serikat yang diwakilkan kepada Inggris. Ingat itu.”

4 Januari 1946

Mengingat situasi Jakarta yang tidak aman lagi bagi keberlangsungan pemerintahan RI, kabinet akhirnya memutuskan guna memindahkan ibu kota negara ke Yogyakarta. Sementara pertempuran sporais terus meletus di Batavia, Bandung, Surabaya dan sejumlah kota besar lain. Sampai pada akhirnya. Belanda setelah melalui berbagai perundingan dan pertempuran, berkat teknik diplomasi dari PM Sutan Sjahrir kelak mau mengakui kemerdekaan Indonesia dan menyerahkan kedaulatan kepada Republik tanggal 27 Desember 1945.

18 September 1948

Pecah pemberontakan PKI Madiun yang dipimpin Muso, Ketegasan Soekarno Hatta menumpas pemberontakan komunis, membuahkan keyakinan blok barat di Pihak Sekutu bahwa Soekarno bukan komunis, sehingga Amerika Serikat dan sekutunya segera mendukung upaya pengakuan kemerdekaan RI berikut permintaan keanggotaannya di PBB.

Sebaliknya kekecewaan Uni Soviet, pihak sekutu dari Blok Timur, akibat sikap RI yang menumpas pemberontakan itu, bisa terobati dengan keberanian inisiatif RI mengakui kepemimpinan Mao Zedong dengan Ku Chan Tang (Partai Komunis Cina) atas RRC yang berhasil mengusir rejim korup Kuo Min Tang pimpinan Jendral Chiang Kai Shek ke Fermosa (sekarang Taiwan atau RRC). Sehingga Uni Soviet juga bisa menerima kehadiran RI di PBB.

“Ini soal geopolitik dan geostrategi dalam menyelamatkan kemerdekan Indonesia.” Kata Soekarno.

27 Desember 1949

Lewat Konferensi Meja Bundar di Den Haag, Belanda resmi menyerahkan kedaulatan kepada republik Indonesia Serikat, yang terdiri dari negara-negara bagian, yaitu RI yang beribukota di Yogya, negara Pasundan, negara  Madura, negara Sumatra, negara Borneo, dan negara Indonesia Timur. Dengan catatan status Nieuw Guinea (Papaua Barat kemudian iriyan Jaya) akan ditentukan secara tersendiri kemudian hari.

17 Agustus 1950

Soekarno setelah berbulan-bulan melakukan safari yang melelahkan berbicara langsung dengan rakyat di seluruh negara bagian berhasil mendorong rakyat membubarkan masing-masing negara bagian dari RIS itu, untuk kembali melebur bersatu ke Pangkuan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

17 Oktober 1952

Dikenal sebagai peristiwa 17 Oktober, ketika sebagian tentara yang kesal akibat campur tangan partai politik terhadap masalah internal TNI-AD, dipimpin oleh Mayor Ahmad kemal Idris atas perintah Kolonel Abdul Haris Nasution, mengarahkan moncong meriam mereka ke Istana, menuntut Soekarno membubarkan parlemen. Soekarno tegas menjawab todongan meriam itu, dengan menyatakan: “ Saya bukan diktator.” Selanjutnya, Soekarno selaku presiden kepala Negara, mengingatkan ajajaran tentara, bahwa jangan sekali-kali tentara sampai diombang-ambingkan oleh politik. Politik  tentara  adalah politik negara. Karena itu sebagai tentara rakyat, sebagai tentara nasional, tentara tidak boleh berpolitik sebagaimana partai politik.

18 April 1955

Berlangsung Konferensi Asia Afrika di Bandung atas prakarsa Soekarno. Dampak konferensi ini bersifat mondial, sehingga Inggris selaku negara kolonialis bertipe setengah royal bergegas mengantisipasinya seperti menjanjikan kemerdekaan maupun segera memerdekakan beberapa wilayah koloninya di Asia dan Afrika, meski kemudian masih mencoba diikat lagi melalui konsep persemakmuran. (commonwealth countries). Sementara beberapa koloni yang dikuasasi setengah kikir, seperti Perancis atau Belanda, semakin bergejolak dengan perjuangan bersenjata untuk merebut kembali kemerdekaan mereka.

31 Desember 1956

Muhammad Hatta mengundurkan diri dari jabatan wakil Presiden RI

21 Februari 1957

Soekarno membekukan sistem demokrasi parlementer yang berlangsung sejak 1950 dan menggantinya dengan demokrasi terpimpin.

14 Maret 1957

Soekarno memberlakukan keadaan perang dan darurat perang (SOB) akibat banyaknya pemberontakan militer di daerah.

30 November 1957

Terjadi prcobaan pembunuhan terhadap Soekarno

5 Juli 1959

Soekarno mengeluarkan Dekrit Presiden yang membubarkan konstituante dan kembali kle Undang-Undang Dasar 1945.

17 Agustus 1959

Soekarno memperkenalkan Manifesto Politik yang oleh MPRS dikukuhkan menjadi Garis-Garis Besar Haluan Negara(GBHN). Manipol memuat lima pokok: UUD 1945, sosialisme Indonesia, Demokrasi Terpimpin, Ekonomi terpimpin, dan kepribadian Indonesia (USDEK).

30 September 1960

Di Majelis Umum PBB, Soekarno menguraikan Pancasila dan perjuangan membebaskan Irian Barat dalam pidato berjudul To Build the Word A New / membangun Dunia Kembali (MDK). Dalam pidato ini, Soekarno  tegas menyatakan, bahwa Pancasila (baca: Marhaenisme) pada hakikatnya adalah sublimasi dari Declaration of Independence (Deklarasi Kemerdekaan Amerika Serikat) dan Manifesto of Communism artinya Pancasila justru merupakan alternatif ketiga dari kedua kubu yang bertentangan dalam perang dingin diantara blok Barat dengan blok Timur saat itu.

Secara ideologis, pemikiran Soekarno sesungguhnya mirip dengan the third way yang dirumuskan oleh Anthony Giddens 20 tahun kemudian.

1963

Untuk menandingi Olimpiade yang digelar negara-negara Barat, Soekarno menggelar pertandingan olahraga Internasional Ganefo (Games of New Emerging Forces) di Senayan, Jakarta, 10 – 22 November 1963 yang diikuti 48 Negara.

3 Mei 1964

Karena kebenciannya kepada kolonialisme Inggris di Asia, dan penghianatan Tun Abdurrahman dari PTM (Persekutuan Tanah Melayu) atas doktrin Maphilindo (Malaya, Philipina, Indonesia) yang akhirnya mengikuti skenario Inggris untuk mebentuk negara boneka Malaysia, Soekarno menyerukan “Gayang Malaysia”. Padahal isi Doktrin Mahphilindo yang ditandatangani oleh Tun Abdurrahman, Presiden Philipina Diasdalgo Macapagal, dan Soekarno itu menyatakan bahwa masalah Sabah (Brunai, Serawak di Kalimantan Utara yang sempat memicu kerusuhan di antara ketiga pihak, sepakat diselesaikan dengan cara baik-baik oleh mereka bertiga, sesuai prinsip: selesaikan masalah Asia, secara Asia, oleh Asia.

Sikap Inggris dan blok Barat yang malah kemudian terus menfasilitasi pembentukan negara boneka Malaysia, dan bukan hanya mendorong PBB menerimanya sebagai anggota, tapi juga menjadikannya sebagai anggota tidak tetap Dewan Keamanan PBB, membuat Soekarno berang. Akhirnya Soekarno memutuskan Indonesia ke Luar dari PBB. Selanjutnya Soekarno pun membentuk poros Jakarta – Peking yang kemudian berkembang jadi Jakarta, Hanoi, Peking, Pyongyang.

14 Januari 1965

Partai Komunis Indonesia mulai melancarkan provokasi dengan tuntutan untuk mempersenjatai buruh dan tani (angkatan kelima). Soekarno tidak menanggapinya.

26 Mei 1965

Beredar isu “Dokumen Gilchrist” yang menyebutkan adanya dewan jendral dalam tubuh angkatan bersenjata untuk mengambil kekuasaan dari Soekarno.

Juli 1965

Soekarno mulai sakit-sakitan. Sekjen PKI, D.N. Aidit memerintahkan agar biro khusus PKI menyiapkan gerakan mengantisipasi dampak sakitnya Soekarno.

30 September 1965

Penculikan dan pembunuhan tujuh jendral AD di Jakarta.

14 Oktober 1965

Mayor jendral Soeharto dilantik sebagai Menteri Panglima Angkatan darat dan membekukan kegiatan PKI dan ormas-ormasnya.

11 Maret 1966

Soekarno di Istana Bogor, di bawah tekanan tiga jendral (Basuki Rahmat, Ahmad Yusuf, Amir Machmud) yang diperintahkan Soeharto, setelah pagi sebelumnya menyuruh Mayjen Ahmad Kemal Idris melakukan manuver untuk menekan Presiden Soekarno agar segera membubarkan sidang kabinet, dengan membawa pasukan tak dikenal mengepung istana, akhirnya menandatangani Surat Perintah yang berisikan Letjen Soeharto untuk dan atas nama Presiden / Pemimpin Besar Revolusi/Panglima Tertinggi ABRI dengan tetap berkooordinasi bersama ketiga Panglima angkatan (PangAl. KpangAU, PangAK) wajib memulihkan keamanan dan ketertiban demi menjamin, terjaga dan terpeliharanya ajaran Pemimpin besar revolusi Bung Karno, dan menjaga keselamatan jiwa raga Bung Karno beserta keluarganya. Surat Perintah tanggal 11 Maret yang sama sekali bukan berupa pelimpahan kekuasaan ini kelak dikenal Super Semar.

12 Maret 1966

Dengan bekal Super Semar itu Soeharto sepihak Soeharto lalu membubarkan PKI. Dan mulailah babak perburuan dan pembantaian massal yang sistematis atas anggota PKI dan segenap ormasnya.

20 Juni 1966

Sidang umum ke-4 di Jakarta antara lain menetapkan, jika Presiden berhalangan tetap, pengemban Super Semar, yakni Soeharto, menjadi Presiden.

21 Januari 1967

Pidato pertanggungjawaban Soekarno pada 10 Januari, Nawakarsa beserta pelengkapnya, ditolak MPRS dan DPRGR menyimpulkan ada petunjuk Soekarno terlibat dalam peristiwa 30 September.

22 Februari 1967

Soekarno diberhentikan dari jabatan presiden dan digantikan Jendral Soeharto.

21 Juni 1970

Soekarno wafat di istana Bogor setelah lama menderita sakit di Wisma Yaso, Jakarta. Jenazah Soekarno dimakamkan di Blitar. ***

******

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s