PEMBUDAYAAN PANCASILA , PEMBANGUNAN KARAKTER BANGSA

Acara: Diseminasi hasil penelitian Strategi Nasional berjudul ”Pembudayaan Pancasila dalam Rangka Pembangunan Karakter Bangsa: Upaya Menyusun Grand Desain Pembudayaan Pancasila kepada Generasi Muda dalam Era Informatika.”

    • 20 Desember 2011
    • Waktu
      8:00 sampai 16:00
  • Tempat
    Ruang Multimedia UGM (Gedung Pusat UGM Lt. 3 Sayap Utara) Rektorat UGM, Bulaksumur ,Yogyakarta, Indonesia

Pembicara : Dr. Daud Aris Tanudirjo,M.A. (Paper Tim)
Pembahas :
1. Akademisi : Dr. Arqom Kuswadjono,M.A.
2. Unsur Pemerintah : Kepala Diskpora Yogyakart
3. Mitra Pemerintah : Deputi Bid. Pendidikan&Agama Kemenkokesra RI
4. Mitra Swasta/media : Direktur Jogja TV
5. Pemuda : BEM UGM
6. Unsur Sekolah : a. SMK: Suwarti,M.Pd. b.SMA : Kepala Sekolah SMA 3B., c.SMP: Kepala Sekolah SMP1 Bantul

NB: Peserta terbatas, Panitia menyediakan konsumsi dan sertifikat, Konfirmasi ke Pusat Studi Pancasila UGM (0274) 553149 or SMS Silva di 081328807406 (paling lambat Senin, 19 Des 2011)

HASIL PENELITIAN LAPANGAN

I. HASIL DARI DATA KUALITATIF

1. MATERI
Dari aspek materi, strategi yang tepat bukan mengembangkan materi pembudayaan yang akademis dan berat, tetapi materi yang ringan, komunikatif, mendudukkan generasi muda sebagai subjek, yang pada satu sisi memiliki jangkar pada budaya dan sejarah bangsa, namun pada sisi lain tanggap terhadap dinamika dan tuntutan perkembangan ekonomi, sosial, politik, dan budaya. Hal tersebut tampak dalam hasil penelitian berikut ini:
• Generasi muda di era informatika cenderung pragmatis. Dengan demikian pendekatan teoretis dengan argumentasi ilmiah yang ketat tidak tepat. Materi yang meski diajarkan sebaiknya berorientasi pada praktek dan aplikasi butir-butir nilai Pancasila. Materi yang terlalu universal sebagaimana dikembangkan dalam PPKn yang tidak fokus pada Pancasila, sudah saatnya ditinjau kembali. Namun demikian seyogyanya ketika berbicara tentang Pancasila tidak secara eksplisit menggunakan istilah Pancasila.
• Sila Pertama menjadi dasar sila-sila lainnya, namun jangan terjebak pada satu sistem nilai, karena Pancasila ada lima sila. Nilai ketuhanan dan kejujuran perlu diangkat. Pengembangan nilai Pancasila mesti bergayut dengan nilai-nilai lokal, namun juga tidak dilepaskan dari konteks ekonomi dan sosial politik saat ini. Pancasila menjadi titik konvergensi bagi umat Islam.
• Adanya pergeseran pemahaman tentang Pancasila, terlihat tidak ada kebanggaan sebagai orang Indonesia dengan Pancasila-nya. Perlu menjadikan kearifan lokal sebagai dasar pemahaman Pancasila, yang dikembangkan melalui dialog interaktif dan komprehensif dan berkesinambungan, mendudukkan generasi muda sebagai subjek, dengan materi dikemas dalam media populer (film, lomba, diskusi). Materi yang dikembangkan sebaiknya memperhatikan stratifikasi materi sesuai dengan jenjang usia dan usia pendidikan. Pemberian contoh penting dan dikemas secara baik.

2. METODE
Media (sarana, alat) untuk pembudayaan Pancasila secara garis besar dapat digolongkan menjadi dua macam: formal dan non-formal. Formal melalui jalur pendidikan formal (sekolah) dari tingkat terendah sampai yang tertinggi. Non-formal lewat jalur apa saja di luar pendidikan formal—media massa, jejaring sosial, seni, lembaga sosial, lembaga adat, dan lembaga keagamaan.
a. Pembudayaan Pancasila melalui Pendidikan Formal
Pembudayaan Pancasila melalui lembaga pendidikan formal, bagaimanapun juga, sebagai sarana yang paling efektif, karena pendidikan lah yang paling besar pengaruhnya terhadap perubahan perilaku manusia. Pendidikan formal sejauh ini sebagai satu sistem organisasi yang lebih teratur dibandingkan dengan lembaga lain yang bersentuhan dengan pengubahan perulaku manusia. Pendidikan formal, entah yang dikelola oleh negara maupun oleh lembaga swasta, tentu memiliki organisasi, kurikulum, guru, tenaga administratif yang merupakan satu sistem yang bersentuhan langsung dengan anak didik. Pancasila sejauh ini sudah dibudayakan lewat pendidikan formal, yaitu melalui PPKN (Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan), namun mata pelajaran PPKN ini dirasa masih sangat kurang untuk penanaman nilai-nilai Pancasila lewat jalur pendidikan formal. Berbagai pihak merasakan ada mata rantai yang putus selama ini antara generasi sebelum Zaman Reformasi dengan generasi sesudah Zaman Reformasi. Kerinduan kepada Pancasila untuk dapat diajarkan kembali dari strata pendidikan yang paling rendah hingga yang paling tinggi terungkap di setiap tempat FGD dilaksanakan.
Dalam penelitian ini juga ditemukan data bahwa Guru di dalam mentransfer pengetahuan kepada anak didiknya, tentunya harus menggunakan media yang bervariatif: pelajaran di kelas, pelajaran di lapangan, memutar film yang kesemuanya untuk mengurangi rasa kejenuhan. Karena dalam kejenuhan orang sulit untuk diajak mengingat, menghafal apalagi untuk berpikir. Jadi dapat disimpulkan bahwa Pendidikan formal lah sebagai sarana, cara, wahana, metode yang paling memungkinkan untuk penanaman nilai-nilai Pancasila. Hanya saja diperlukan kreativitas guru, tentunya desuaikan dengan prasarana yang tersedia, agar pembelajaran moralitas Pancasila dapat berlangsung sesuai dengan yang diharapkan.

b. Pembudayaan Pancasila melalui Media di Luar Pendidikan Formal
Generasi muda sekarang sangat akrab dengan teknologi komunikasi: internet dan hand phone. Banyak sekali keuntungan positif yang diperoleh dengan pemakaian dua alat komunikasi tersebut: informasi dapat diakses dengan mudah kapan saja dan di mana saja. Namun alat tetaplah alat, yang penting adalah “the man behind the gun”, sarana tetaplah sebagai sarana seandainya pun dapat menjadi tujuan hanyalah tujuan antara, bukan tujuan akhir. Internet dan hand phone dengan segala fungsinya, tidak diragukan, dapat digunakan sebagai sarana yang efektif bagi pembudayaan nilai-nilai Pancasila bagi generasi muda.
Di samping kedua alat tersebut di atas, masih ada alat komunikasi lain yang relatif lebih tua: koran, majalah, tabloid, jurnal, radio, televisi, pertunjukan seni live, yang lebih cenderung ke “one way traffic communication”, komunikasi satu arah. Generasi muda selain menggunakan internet dan hand phone masih “banyak” juga yang membaca koran, majalah, tabloid, jurnal; masih ada banyak yang mendengarkan radio, menonton televisi; melihat pertunjukan seni.
Ada lagi yang tidak dapat dinafikan eksistensi dan perannya: pemuka masyarakat, tokoh agama, tokoh adat, lembaga kepemudaan, lembaga sosial masyarakat, paguyuban seni tradisional maupun kelompok kesenian modern. Mereka masing-masing dapat diikutsertakan di dalam pembudayaan Pancasila untuk generasi muda. Karena, setiap individu manusia dilahirkan dalam lingkungan budaya tertentu, baik secara langsung maupun tidak langsung akan bersentuhan dengan individu dan lembaga yang ada di sekitarnya.

3. MEDIA
Dalam penelitian ini tidak ada perbedaan yang signifikan pada pembudayaan Pancasila baik di desa maupun di Kota. Artinya bahwa generasi muda di desa dan kota memiliki kecenderungan, pemahaman, dan akses yang sama “mudah” terhadap teknologi. Dari hasil penelitian diperoleh data pemanfaatan media sebagai berikut:
a. Media Massa
Sebagian besar data menunjukkan bahwa media pembudayaan Pancasila melalui media elektronik, yang paling diinginkan adalah melalui televis dengan bentuk yang bermacam-macam seperti: Program dengan kemasan serius, santai dan hiburan, advertorial: Iklan yang kreatif, iklan layanan masyarakat yang disesuaikan dengan isyu-isyu kepemudaan. Meski demikian ada pula yang mengusulkan agar pembudayaan pancasila juga melalui media Cetak.

b. Media Budaya
Pemanfaatan media budaya juga bisa dijadikan alernatif pembudayaan misalnya dengan menumpang pada budaya-budaya lokal yang sedang dipertunjukkan,kesenian namun semuanya harus dibuat simple dan sesuai dengan minat generasi muda saat ini, melalui lagu semisal Garuda di dadaku.

c. Media Agama
Masyarakat Indonesia dikenal sebagai bangsa yang religious, untuk itu media/lembaga keagamaan bisa dimaksimalkan. Contohnya adalah kunjungan ke pesantren/greja moderat, Jika di Bali ada Megibung, metirta yadva (sembahyang ditempat suci)

d. Internet
Internet merupakan salah satu media pembudayaan yang paling favorit dibandingkan dengan media yang lain. Disamping itu diinternetpun banyak alternative pilihan yang bisa dimanfaatkan, misalnya: (1) Menggunakan social media seperti YM, Facebook, Twitter, blog; (2) Game online seperti “revolution” atau game-game simple seperti yahoo games, google chrome, facebook, dll. Game ini muatannya bisa diganti dengan nilai-nilai Pancasila sehingga tidak membosankan dan mudah dicerna

f. Komunitas
Keberadaan komunitas/kelompok masyarakat juga bisa dijadikan alternatif pembudayaan, Misalnya organisasi pemuda, pramuka , kelompok hobi, semuanya dapat digunakan sebagai sarana penanaman nilai-nilai Pancasila kepada generasi muda. Bahkan ada yang mengutarakan perlu diadakan penataran Pncasila pada ormas pemuda yang ada.

h. Media Lokal
Potensi lokal yang sangat beragam yang dimilikioleh masyarakat Indonesia juga layak menadapatkan perhatian. Ada beberapa jalan yang bisa di tempuh yakni dengan merekonstruksi/menggali cerita rakyat/dongeng/mitos-mitos nusantara, lalu menarik benang merahnya pada nilai-nilai Pancasila, menggunakan bahasa dan nilai-nilai lokal lebih cocok untuk pembudayaan Pancasila, kegiatan bakti social.
Salah satu temuan di makasar adalah:
Tudang Sipulung (Musyawarah Tudang Sipulung merupakan budaya asli masyarakat Sidenreng Rappang yang telah mentradisi sejak jaman dulu. Menurut pallontara (tokoh tani tradisional), Tudang Sipulung dimulai sejak abad ke-15 yang dibudayakan oleh La Pagala Nene’ Mallomo, legenda orang Sidrap. Sedangkan Tudang Sipulung modern (era teknologi), mulai dikembangkan di daerah tahun 1974. Makna tudang sipulung, urainya, mencari kesepakatan secara terpadu, yang tak lain bertujuan sebagai bagian dari upaya meningkatkan produktivitas pertanian, sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat dalam usaha pertaniannya.)

Selain berbagai media di atas masih ada pula beberapa media yang bisadijadikan sarana yakni melalui spanduk, baliho, maupun banner. Akan tetapi yang tidak kalah pentingnya adalah peran dan dukungan pemerintah dalam membudayakan Pancasila. Misalnya perlu adanya political will dari pemerintah melalui pembuatan dan pengaturan kelembagaan untuk mempertahankan Pancasila yang disesuaikan dengan kondisi dan membuat perangkat dan kesepakatan politik yang di elementasikan melalui undang-undang, perda dan peraturan-peraturan, sebagai bentuk legalisasi

4. LINGKUNGAN KOMUNIKASI
Beberapa temuan penting yang menyangkut gambaran lingkungan komunikasi yang dapat mempengaruhi persepsi dan penerimaan generasi muda terhadap Pancasila, sebagai berikut:
Pertama, generasi muda memandang bahwa lingkungan komunikasi berperan penting untuk menentukan keberhasilan materi dan metode pembudayaan nilai Pancasila. Pilihan materi dan metode yang digunakan haruslah dikaitkan dengan konteks realitas lingkungan kehidupan dan penghidupan generasi muda.
Kedua, generasi muda memiliki persepsi bahwa lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat sering menjadi referensi yang efektif bagi mereka untuk mengadopsi nilai-nilai, termasuk kemungkinan nilai Pancasila.
Ketiga, terlepas dari daerah tempat tinggalnya, generasi muda cenderung menghindari lingkungan yang mengungkung atau mendikte; sebaliknya atmosfir kebebasan untuk memberikan interpretasi atas nilai bersama menjadi tuntutan di dalam proses pembudayaan Pancasila.
Keempat, lingkungan yang mampu memproduksi dan mereproduksi keteladanan menjadi harapan sekaligus tuntutan generasi muda untuk menarik minat dan kesetiaan mereka menjalankan Pancasila dalam kehidupan sehari-hari.
Kelima, lingkungan primer (keluarga), sekunder (sekolah) dan tersier (masyarakat) memainkan peran penting di dalam proses pembudayaan Pancasila. Pada setiap lingkungan ini terjadi penurunan derajat peran strategis untuk menampilkan nilai Pancasila sebagai anutan bersikap dan bertindak.
Keenam, lingkungan komunikasi yang efektif untuk membudayakan nilai Pancasila harus mampu memadukan fungsi-fungsi pendidikan pada tiga pilar (keluarga-sekolah-masyarakat), yang didukung oleh kebijakan, keteladanan, dan kejujuran.
Ketujuh, lingkungan komunikasi tidak steril dari pengaruh globalisasi dan teknologisasi yang secara dramatis mengubah gaya hidup. Generasi muda berhadapan dengan, namun tidak mampu membendung daya tarik nilai kedua elemen ini, sehingga sulit menginternalisasi nilai Pancasila dalam hidup sehari-hari.

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s